PROSES
PEMBERDAYAAN DIDALAM
PRAKTEK
PEKERJAAN SOSIAL DENGAN
ORGANISASI
DAN MASYARAKAT
1. Dialog (Dialogue)
2. Penemukenalan (Discovery)
3. Pengembangan (Development)
1. Dialog.
a.
Persiapan
untuk bekerjasama (preparing to work
together).
Merupakan
tahap awal dalam proses kerjasama. Pengenalan diri serta pengenalan warga
merupakan inti dari tahap ini. Pekerja sosial masyarakat mulai masuk ke dalam
komunitas untuk sebanyak mungkin memperkenalkan apa maksud dan tujuan
kehadirannya dalam masyarakat. Pelibatan diri dalam aktivitas-aktivitas
interaksi masyarakat, pertemuan-pertemuan non formal, pertemuan warga,
pertemuan keagamaan, kepemudaan, kelompok perempuan merupakan media penting
dalam melakukan tahapan “dialogue”.
b.
Pembentukan
dan pegembangan rasa saling percaya (Trust
Building).
Deskripsi tentang tugas maupun tanggung jawab diri
dalam proses interaksi dengan warga merupakan komponen penting dalam tahap
ini. Pemahaman warga bahwa pekerja
sosial merupakan orang yang tidak mengancam, memiliki misi membantu, serta
memegang teguh prinsip kerja yang didedikasikan sepenuhnya kepada masyarakat,
menjadi langkah awal dalam pembentukan dan pengembangan “Trust”. Langkah ini harus
terus dikembangkan dalam situasi sosial yang melibatkan sebanyak mungkin warga,
dengan demikian, kerjasama antara warga sedikit demi sedikit dapat tumbuh dan
berkembang. Kepercayaan ini merupakan
syarat mutlak dalam menjalin relasi kerjasama antara para partisipan atau
sistem-sistem yang terlibat dalam proses pengembangan masyarakat.
c.
Pembentukan
dan pengembangan partnership (developing
Partnership).
Situasi yang terkembang atas keberhasilan tahap
pembentukan “Trust” adalah
terciptanya kesediaan untuk menjadi bagian dalam proses kerjasama. Pembagian tugas dan tanggung jawab antar
warga akan menjadi energi penguat partnership
Warga yang diberi tanggung jawab akan memiliki
keyakinan bahwa dirinya memiliki makna dalam keseluruhan proses kerja. Perasaan
bahwa dirinya bermakna akan menjadi semangat bagi warga kurang memiliki
kepercayaan diri. Partnership juga
menjadi syarat mutlak pada situasi-situasi pengembangan masyarakat yang
mengutamakan pendekatan comunity development, dimana partisipasi dan
keterlibatan warga menjadi urat nadi proses yang dilakukan.
d.
Pemaknaan
tantangan-tantangan (articulating
challenges).
Kepercayaan
serta partnership tidak akan bertahan tanpa tujuan yang jelas. Tujuan akan terdefinisikan dengan jelas
melalui menelusuran tantangan yang dihadapi bersama. Untuk itu, deskripsi
ancaman, masalah, “stressor “ yang
dihadapi harus diubah sedemikian rupa menjadi tantangan yang menentukan arah
bagi upaya perubahan. Penemuan dan pengenalan sumber daya maupun kekuatan yang
dimiliki, kemungkinan-kemungkinan atau peluang-peluang keberhasilan di masa
depan merupakan sarana yang sangat baik
yang dapat mengubah ancaman menjadi tantangan.
Ancaman cenderung mengakibatkan orang menjadi takut, cemas, depresi, dan
melarikan diri darinya, sedangkan tantangan akan menguatkan orang untuk
menghadapi situasi problematik dengan teguh dan logis, sehingga solusi menjadi
lebih mudah tercapai.
e.
Penentuan
arah kegiatan (Defining Directions).
Tahapan ini merupakan tahapan untuk menentukan
tujuan yang hendak dicapai. Tujuan yang ditetapkan bersama oleh anggota
komunitas harus difasilitasi oleh pekerja sosial dengan mendorong kesadaran
bahwa tujuan harus memiliki beberapa karakteristik kunci :
·
Bersifat realistis,
memungkinkan untuk dicapai, tidak mustahil untuk dicapai. Hal ini erat kaitannya dengan kekuatan lokal
yang dimiliki. Tujuan yang mengandalkan kekuatan luar akan menyebabkan lemahnya
dorongan dalam mencapai tujuan tersebut.
·
Dapat diukur sampai
sejauh mana ketercapaiannya. Pemecahan
tujuan global menjadi tujuan-tujuan kecil yang terukur sangat membantu dalam
penetapan target jangka pendek.
·
Tujuan-tujuan ini juga
harus memiliki kerangka waktu pencapaian, sehingga pengukuran dan pengendalian
menjadi lebih nyata.
·
Menggambarkan ruang
lingkup kegiatan yang akan dilakukan.
2. Penemukenalan
(Discovery).
a.
Penggalian
sumber daya (Exploring Resource Systems)
Upaya yang dilakukan dengan sungguh-sungguh serta
arah yan tergambar dengan jelas tidak akan berkembang menjadi keberhasilan
tanpa sumber daya dan kekuatan sendiri.
Pendamping utama dalam pengembangan masyarakat adalah kemampuan sendiri
atau kekuatan sendiri. Kekuatan ini harus ditelusuri dan diurai sendiri oleh
warga komunitas sehingga terlihat jelas bagaimana mengali dan
memanfaatkannya. Beberapa persoalan yang
terkait dengan sumber daya ini antara lain :
·
Sumber yang dibutuhkan
tidak tersedia di lokasi yang bersangkutan.
·
Sumber yang ada belum
terlihat atau tidak disadari oleh orang yang membutuhkan.
·
Sumber yang ada tidak
responsif terhadap kebutuhan.
·
Terdapat koflik
kepentingan dalam pemanfaatan sumber yang ada.
b.
Analisis
kemampuan dan daya dukung sumber daya (Analysing
Resource Capabilities).
Bauman (1990) menjelaskan bahwa analisis pada
intinya merupakan suatu aktivitas memahami yang dilakukan dengan cara “mengurai”, yaitu membagi kesatuan ke
dalam bagian-bagian kecil yang mempermudah pemahaman, “Mencari relevansi”, yaitu mencari hubungan antara bagian satu
dengan bagian lain, serta “mengkaitkan”,
yaitu menghubungkan bagian internal dengan faktor eksternal yang ada. Dengan demikian, menganaisis kekuatan adalah
mengurai kekuatan apa saja yang dimiliki menjadi bagian-bagian kecil yang
memudahkan pemahaman, mencari relevansi antar bagian atau antar kekuatan kecil
sebagai bagian dari kekuatan total, serta mengkaitkan bagian kecil dari
kekuatan dengan dukungan eksternal yang ada di lingkungan luar.
c.
Membentuk
tim (Team Building).
Tim merupakan kelompok yang terdiri dari banyak
orang yang memiliki kemauan, semangat, dorongan masing-masing, akan tetapi
memiliki kesatuan arah yang sama. Masing-masing anggota komunitas memiliki
keunikan tersendiri serta kekuatan yang berbeda-beda. Keberbedaan ini disatukan oleh arah dan
tujuan bersama.
d.
Membingkai
solusi (Framing solutions).
Akivitas bersama antar warga yang dibentuk dan
dilaksanakan secara periodik dilakukan untuk mengungkap beraneka ragam
alternatif solusi. Kebersamaan warga
dilakukan terus menerus untuk saling berbagi pengalaman dan pemikiran, yang
akhirnya membentuk pilihan yang ditetapkan bersama sebagai solusi yang
disepakati. Pilihan solusi ini harus
dibingkai atau diwujudkan dalam suatu pernyataan lugas dan ditampilkan sebagai
milik bersama. Pernyataan bersama atas solusi ini harus selalu teringat dan “terpatri” dalam pikiran warga sebagai
patokan yang harus selalu memandu langkah kerja warga mencapai tujuan yang
dikehendaki.
e.
Menguatkan
motivasi kerjasama (Strengthening energy
to work together).
Pemahaman antar warga satu sama lain (Mutual understanding) tentang
kebersatuan (Sense of “Us”), kesepakatan bersama (Mutual Agreement), perasaan saling
memiliki antar warga (Sense of Belonging),
merupakan instrumen untuk menggerakkan kekuatan (Instrument for Mobilization) kerjasama dalam suatu network mencapai
tujuan (Bauman, 1990). Oleh karena itu, pekerja sosial masyarakat perlu
menjalin beraneka ragam bentuk kesatuan aktivitas bersama yang dapat menguatkan
mutual understanding, mutual agreement,
sense of us, serta sense of belonging.
3. Pengembangan (Development).
a.
Mengaktifkan
dan menguatkan interaksi sosial (Activating
Social Interaction) antar anggota kelompok atau kesatuan-kesatuan sosial.
Kegiatan
ini dilakukan dengan membentuk dan menggulirkan pertemuan, komunikasi, serta
diskusi, perbincangan, maupun aksi-aksi bersama lainya yang terarah pada
pengembangan masyarakat.
b.
Mengaktifkan
dan menggerakkan sumber daya (Activating
Resource System).
Beberapa permasalahan terkait dengan pemanfatan
sistem sumber (seperti yang telah terurai pada tahap sebelumnya) perlu
dihilangkan atau dikurang sedemikian rupa agar orang yang membutuhkan dapat
terkait dengan sumber yang ada.
Mobilisasi juga memerlukan “Trust”
antara pelaksana sistem sumber dengan pihak yang membutuhkan. Dengan demikian “Trust” juga harus dikembangkan dengan
kuat.
c.
Memperluas
peluang (Expanding Opportunities).
Penemukenalan dan pengkajian sumber daya dengan
baik, penentuan tujuan, serta perencanaan secara lengkap dan detil akan
memperluas peluang atau kemungkinan-kemungkinan dalam pemecahan masalah maupun
pencapaian hasil.
Aktivasi berbagai komponen yang berkenaan dengan
implementasi perencanaan akan membuka peluang-peluang lain yang selama ini tidak
terlihat atau masih tersembunyi.
Peluang-peluang ini dapat berperan sebagai pendorong kuat kearah
pengembangan lebih lanjut dari program yang dilakukan. Perluasan peluang ini juga mengurangi
kebuntuan hasil atau juga dapat meningkatkan sustainabilitas program.
d.
Penemukenalan
keberhasilan yang telah dicapai (Recognizing
Success).
Keberhasilan yang telah dicapai yang terbingkai
dalam suatu kerangka yang terdokumentasi dengan baik meningkatkan rasa percaya
diri warga atas hasil dan proses kerja yang telah dilakukan, yang selanjutnya
akan menguatkan keyakinan dalam diri warga bahwa mereka mempunyai
kemampuan. Keberhasian yang dicapai ini
terbagi ke dalam beberapa tahapan kerja yang sesuai dengan tujuan-tujuan jangka
pendek. Hal ini dilakukan melalui evaluasi
terhadap proses yang dilakukan.
e.
Pendampingan
untuk kesinambungan (Facilitating for
sustainability)
Pendampingan yang dilakukan oleh pekerja sosial
masyarakat akan mempermudah keberlangsungan program yang dilakukan. Pekerja
sosial masyarakat melakukan berbagai kegiatan, pertemuan, serta pemantauan atas
kegiatan warga. Tahapan kegiatan ini
juga memiliki tujuan untuk menjaga agar semangat kerja dan partisipasi warga
tetap terjaga, dan misi utama prgram kegiatan yang dilakukan tetap dapat
terjaga dengan baik..
f.
Pengembangan
sistem informasi (Developing information
systems).
Tahap ini merupakan suatu tahap untuk menciptakan
mekanisme-mekanisme tertentu agar seluruh partisipan, seluruh stakeholders,
serta seluruh warga komunitas agar mengetahui dan memahami kegiatan yang telah
dilakukan, serta apa kekurangan yang dialaminya. Sistem informasi ini memiliki
manfaat untuk :
·
Mengkomunikasikan
program yang sedang dilakukan kepada warga komunitas lainnya, sehingga
pengendalian dapat dilakukan dengan lebih mudah.
·
Mengkomunikasikan
program yang dilakukan kepada “Stakeholders”
lain, sehingga pelibatan mereka menjadi lebih mudah dan dapat dipertahankan,
selain itu, monitoring juga mudah dilakukan.
·
Mengkomunikasikan
program yang dilakukan kepada sistem sumber yang terlibat, sehingga
penggalangan sumber menjadi lebih mudah dilakukan.
·
Menyemangati serta
mendidik warga komunitas entang kegiatan yang dilakukan.
Gunakan sistem informasi yang paling mudah dipahami
dan dilakukan dalam komunitas yang bersangkutan. Pemasangan papan-papan pengumuman kegiatan,
spanduk, majalah dinding, dan sebagainya merupakan media yang dapat digunakan
dalam kegiatan ini. Pengalaman menyimpulkan bagaimana teknologi informasi yang
paling sederhanalah yang paling efektif dan efisien pada masyarakat pedesaan di
Indonesia.
g.
Evaluasi
(Evaluation)
Evaluasi merupakan suatu tahapan penting dalam
keseluruhan program pelayanan kesejahteraan sosial. Proses inilah yang akan menunjukkan apakah
program pelayanan yang dilaksanakan telah menjawab persoalan yang muncul atau
tidak, apakah program yang telah dilaksanakan benar-benar memenuhi kebutuhan
klien atau tidak, sesuai dengan prosedur atau tidak, bagaimana hambatan yang
dialami, dan sebagainya. Dengan kata
lain, evaluasi merupakan proses penting yang harus dilaksanakan untuk melihat
apakan suatu program pelayanan mengalami kegagalan atau keberhasilan secara
lengkap.
|
Kegiatan
|
Strategi
|
Teknik
|
|
1. Sosialisasi & Dialog
a.
Membangun relasi
b.
Mengembangkan kepercayaan
c.
Meningkatkan motivasi & kerjasama
2. Penyuluhan
sosial
|
-
Sosialisasi bertingkat
-
Melibatkan diri dalam kegiatan
masyarakat
-
Melibatkan masyarakat dlm kegiatan
-
Kampanye
|
- Ceramah
- Tanya jawab
- Community Involvement
- Cooptasi/ bergabung
- Persuasi
- Memanfaatkan media massa
- Edukasi/pendidikan
|
|
2.
Menemukenali kebutuhan & sumber-sumber
a.
Mendefinisikan tantangan/masalah,
potensi/sumber & peluang-peluang
b.
Menentukan arah/tujuan
perubahan/kegiatan
|
-
Melakukan Assesmen melalui pertemuan
formal
|
- Metode
Asesmen Partisipatif (MPA)
- Diskusi
Kelompok Terfokus (FGD)
|
|
3. Perencanaan Kegiatan
a.
Menggali potensi/sumber masyarakat
b.
Analisis potensi & sumber
masyarakat
c.
Menentukan partisipan (pihak-pihak
yang dilibatkan)
d.
Merumuskan pemecahan masalah
e.
Menguatkan kesepakatan & kerjasama
|
-
Pemetaan potensi dan sumber
- Perencanaan
partisipatif
|
- Diagram
Venn
- Tools
of Participation (TOP)
|
|
4. Pelaksanaan Kegiatan
a.
Mengaktifkan & meningkatkan
interaksi sosial di antara kelompok-kelompok yang ada
b.
Memobilisasi & memanfaatkan suatu
sumber
c.
Memperluas dukungan &
jaringan-jaringan kerjasama untuk memperluas pencapaian hasil
|
- Pengorganisasian
kelompok
- Penilaian
dan Penguatan kelompok
-
Pelibatan masyarakat dalam kegiatan
pembangunan
-
Pengembangan dukungan dan jaringan
kerjasama
|
- PEKA
- Pelatihan-pelatihan
- Teknik
demonsrasi
- Teknik
kerja kelompok
|
|
5. Monitoring & Evaluasi
a.
Memulai keberhasilan kegiatan
b.
Pendampingan untuk kesinambungan
pengembangan sistem informasi
c.
Evaluasi keseluruhan program kegiatan
|
-
Evaluasi proses partisipatif
-
Pendampigan
-
Evaluasi akhir partisipatif
|
- Alat Moneva
- FGD
|
Slot machines rigged - Casino Online
BalasHapusSlot 순천 출장마사지 machines rigged. Casino Online The best casinos for this 한게임 포커 type of 당진 출장마사지 gambling is The 춘천 출장샵 Borgata, which opened its doors to gamblers a few months ago. It 사천 출장안마 offers its