Jumat, 15 Juni 2012

proses pemberdayaan masyarakat dalam praktek pekerjaan sosial



PROSES PEMBERDAYAAN DIDALAM
PRAKTEK PEKERJAAN SOSIAL DENGAN
ORGANISASI DAN MASYARAKAT


1. Dialog (Dialogue)
2. Penemukenalan (Discovery)
3. Pengembangan (Development)
     
1.      Dialog.
a.      Persiapan untuk bekerjasama (preparing to work together).
Merupakan tahap awal dalam proses kerjasama. Pengenalan diri serta pengenalan warga merupakan inti dari tahap ini. Pekerja sosial masyarakat mulai masuk ke dalam komunitas untuk sebanyak mungkin memperkenalkan apa maksud dan tujuan kehadirannya dalam masyarakat. Pelibatan diri dalam aktivitas-aktivitas interaksi masyarakat, pertemuan-pertemuan non formal, pertemuan warga, pertemuan keagamaan, kepemudaan, kelompok perempuan merupakan media penting dalam melakukan tahapan “dialogue”. 

b.      Pembentukan dan pegembangan rasa saling percaya (Trust Building).
Deskripsi tentang tugas maupun tanggung jawab diri dalam proses interaksi dengan warga merupakan komponen penting dalam tahap ini.  Pemahaman warga bahwa pekerja sosial merupakan orang yang tidak mengancam, memiliki misi membantu, serta memegang teguh prinsip kerja yang didedikasikan sepenuhnya kepada masyarakat, menjadi langkah awal dalam pembentukan dan pengembangan “Trust”.  Langkah ini harus terus dikembangkan dalam situasi sosial yang melibatkan sebanyak mungkin warga, dengan demikian, kerjasama antara warga sedikit demi sedikit dapat tumbuh dan berkembang.   Kepercayaan ini merupakan syarat mutlak dalam menjalin relasi kerjasama antara para partisipan atau sistem-sistem yang terlibat dalam proses pengembangan masyarakat.
c.       Pembentukan dan pengembangan partnership (developing Partnership).
Situasi yang terkembang atas keberhasilan tahap pembentukan “Trust” adalah terciptanya kesediaan untuk menjadi bagian dalam proses kerjasama.  Pembagian tugas dan tanggung jawab antar warga akan menjadi energi penguat partnership
Warga yang diberi tanggung jawab akan memiliki keyakinan bahwa dirinya memiliki makna dalam keseluruhan proses kerja. Perasaan bahwa dirinya bermakna akan menjadi semangat bagi warga kurang memiliki kepercayaan diri.  Partnership juga menjadi syarat mutlak pada situasi-situasi pengembangan masyarakat yang mengutamakan pendekatan comunity development, dimana partisipasi dan keterlibatan warga menjadi urat nadi proses yang dilakukan.
d.      Pemaknaan tantangan-tantangan (articulating challenges).
Kepercayaan serta partnership tidak akan bertahan tanpa tujuan yang jelas.  Tujuan akan terdefinisikan dengan jelas melalui menelusuran tantangan yang dihadapi bersama. Untuk itu, deskripsi ancaman, masalah, “stressor “ yang dihadapi harus diubah sedemikian rupa menjadi tantangan yang menentukan arah bagi upaya perubahan. Penemuan dan pengenalan sumber daya maupun kekuatan yang dimiliki, kemungkinan-kemungkinan atau peluang-peluang keberhasilan di masa depan  merupakan sarana yang sangat baik yang dapat mengubah ancaman menjadi tantangan.  Ancaman cenderung mengakibatkan orang menjadi takut, cemas, depresi, dan melarikan diri darinya, sedangkan tantangan akan menguatkan orang untuk menghadapi situasi problematik dengan teguh dan logis, sehingga solusi menjadi lebih mudah tercapai.

e.       Penentuan arah kegiatan (Defining Directions).
Tahapan ini merupakan tahapan untuk menentukan tujuan yang hendak dicapai. Tujuan yang ditetapkan bersama oleh anggota komunitas harus difasilitasi oleh pekerja sosial dengan mendorong kesadaran bahwa tujuan harus memiliki beberapa karakteristik kunci :
·         Bersifat realistis, memungkinkan untuk dicapai, tidak mustahil untuk dicapai.  Hal ini erat kaitannya dengan kekuatan lokal yang dimiliki. Tujuan yang mengandalkan kekuatan luar akan menyebabkan lemahnya dorongan dalam mencapai tujuan tersebut.
·         Dapat diukur sampai sejauh mana ketercapaiannya.  Pemecahan tujuan global menjadi tujuan-tujuan kecil yang terukur sangat membantu dalam penetapan target jangka pendek. 
·         Tujuan-tujuan ini juga harus memiliki kerangka waktu pencapaian, sehingga pengukuran dan pengendalian menjadi lebih nyata.
·         Menggambarkan ruang lingkup kegiatan yang akan dilakukan.

2.      Penemukenalan (Discovery).
a.      Penggalian sumber daya (Exploring Resource Systems)
Upaya yang dilakukan dengan sungguh-sungguh serta arah yan tergambar dengan jelas tidak akan berkembang menjadi keberhasilan tanpa sumber daya dan kekuatan sendiri.  Pendamping utama dalam pengembangan masyarakat adalah kemampuan sendiri atau kekuatan sendiri. Kekuatan ini harus ditelusuri dan diurai sendiri oleh warga komunitas sehingga terlihat jelas bagaimana mengali dan memanfaatkannya.  Beberapa persoalan yang terkait dengan sumber daya ini antara lain :
·         Sumber yang dibutuhkan tidak tersedia di lokasi yang bersangkutan.
·         Sumber yang ada belum terlihat atau tidak disadari oleh orang yang membutuhkan.
·         Sumber yang ada tidak responsif terhadap kebutuhan.
·         Terdapat koflik kepentingan dalam pemanfaatan sumber yang ada.  

b.      Analisis kemampuan dan daya dukung sumber daya (Analysing Resource Capabilities).
Bauman (1990) menjelaskan bahwa analisis pada intinya merupakan suatu aktivitas memahami yang dilakukan dengan cara “mengurai”, yaitu membagi kesatuan ke dalam bagian-bagian kecil yang mempermudah pemahaman, “Mencari relevansi”, yaitu mencari hubungan antara bagian satu dengan bagian lain, serta “mengkaitkan”, yaitu menghubungkan bagian internal dengan faktor eksternal yang ada.  Dengan demikian, menganaisis kekuatan adalah mengurai kekuatan apa saja yang dimiliki menjadi bagian-bagian kecil yang memudahkan pemahaman, mencari relevansi antar bagian atau antar kekuatan kecil sebagai bagian dari kekuatan total, serta mengkaitkan bagian kecil dari kekuatan dengan dukungan eksternal yang ada di lingkungan luar.
c.       Membentuk tim (Team Building).
Tim merupakan kelompok yang terdiri dari banyak orang yang memiliki kemauan, semangat, dorongan masing-masing, akan tetapi memiliki kesatuan arah yang sama. Masing-masing anggota komunitas memiliki keunikan tersendiri serta kekuatan yang berbeda-beda.  Keberbedaan ini disatukan oleh arah dan tujuan bersama. 
d.      Membingkai solusi (Framing solutions).
Akivitas bersama antar warga yang dibentuk dan dilaksanakan secara periodik dilakukan untuk mengungkap beraneka ragam alternatif solusi.  Kebersamaan warga dilakukan terus menerus untuk saling berbagi pengalaman dan pemikiran, yang akhirnya membentuk pilihan yang ditetapkan bersama sebagai solusi yang disepakati.  Pilihan solusi ini harus dibingkai atau diwujudkan dalam suatu pernyataan lugas dan ditampilkan sebagai milik bersama. Pernyataan bersama atas solusi ini harus selalu teringat dan “terpatri” dalam pikiran warga sebagai patokan yang harus selalu memandu langkah kerja warga mencapai tujuan yang dikehendaki.
e.       Menguatkan motivasi kerjasama (Strengthening energy to work together). 
Pemahaman antar warga satu sama lain (Mutual understanding) tentang kebersatuan (Sense ofUs”), kesepakatan bersama (Mutual Agreement), perasaan saling memiliki antar warga (Sense of Belonging), merupakan instrumen untuk menggerakkan kekuatan (Instrument for Mobilization) kerjasama dalam suatu network mencapai tujuan (Bauman, 1990). Oleh karena itu, pekerja sosial masyarakat perlu menjalin beraneka ragam bentuk kesatuan aktivitas bersama yang dapat menguatkan mutual understanding, mutual agreement, sense of us, serta sense of belonging.



3.      Pengembangan (Development).
a.      Mengaktifkan dan menguatkan interaksi sosial (Activating Social Interaction) antar anggota kelompok atau kesatuan-kesatuan sosial.
Kegiatan ini dilakukan dengan membentuk dan menggulirkan pertemuan, komunikasi, serta diskusi, perbincangan, maupun aksi-aksi bersama lainya yang terarah pada pengembangan masyarakat.

b.      Mengaktifkan dan menggerakkan sumber daya (Activating Resource System). 
Beberapa permasalahan terkait dengan pemanfatan sistem sumber (seperti yang telah terurai pada tahap sebelumnya) perlu dihilangkan atau dikurang sedemikian rupa agar orang yang membutuhkan dapat terkait dengan sumber yang ada.  Mobilisasi juga memerlukan “Trust” antara pelaksana sistem sumber dengan pihak yang membutuhkan. Dengan demikian “Trust” juga harus dikembangkan dengan kuat.     
c.       Memperluas peluang (Expanding Opportunities).
Penemukenalan dan pengkajian sumber daya dengan baik, penentuan tujuan, serta perencanaan secara lengkap dan detil akan memperluas peluang atau kemungkinan-kemungkinan dalam pemecahan masalah maupun pencapaian hasil. 
Aktivasi berbagai komponen yang berkenaan dengan implementasi perencanaan akan membuka peluang-peluang lain yang selama ini tidak terlihat atau masih tersembunyi.  Peluang-peluang ini dapat berperan sebagai pendorong kuat kearah pengembangan lebih lanjut dari program yang dilakukan.  Perluasan peluang ini juga mengurangi kebuntuan hasil atau juga dapat meningkatkan sustainabilitas program.
d.      Penemukenalan keberhasilan yang telah dicapai (Recognizing Success).
Keberhasilan yang telah dicapai yang terbingkai dalam suatu kerangka yang terdokumentasi dengan baik meningkatkan rasa percaya diri warga atas hasil dan proses kerja yang telah dilakukan, yang selanjutnya akan menguatkan keyakinan dalam diri warga bahwa mereka mempunyai kemampuan.  Keberhasian yang dicapai ini terbagi ke dalam beberapa tahapan kerja yang sesuai dengan tujuan-tujuan jangka pendek.  Hal ini dilakukan melalui evaluasi terhadap proses yang dilakukan.
e.       Pendampingan untuk kesinambungan (Facilitating for sustainability)
Pendampingan yang dilakukan oleh pekerja sosial masyarakat akan mempermudah keberlangsungan program yang dilakukan. Pekerja sosial masyarakat melakukan berbagai kegiatan, pertemuan, serta pemantauan atas kegiatan warga.  Tahapan kegiatan ini juga memiliki tujuan untuk menjaga agar semangat kerja dan partisipasi warga tetap terjaga, dan misi utama prgram kegiatan yang dilakukan tetap dapat terjaga dengan baik..
f.       Pengembangan sistem informasi (Developing information systems).
Tahap ini merupakan suatu tahap untuk menciptakan mekanisme-mekanisme tertentu agar seluruh partisipan, seluruh stakeholders, serta seluruh warga komunitas agar mengetahui dan memahami kegiatan yang telah dilakukan, serta apa kekurangan yang dialaminya. Sistem informasi ini memiliki manfaat untuk :
·         Mengkomunikasikan program yang sedang dilakukan kepada warga komunitas lainnya, sehingga pengendalian dapat dilakukan dengan lebih mudah.
·         Mengkomunikasikan program yang dilakukan kepada “Stakeholders” lain, sehingga pelibatan mereka menjadi lebih mudah dan dapat dipertahankan, selain itu, monitoring juga mudah dilakukan. 
·         Mengkomunikasikan program yang dilakukan kepada sistem sumber yang terlibat, sehingga penggalangan sumber menjadi lebih mudah dilakukan.
·         Menyemangati serta mendidik warga komunitas entang kegiatan yang dilakukan. 

Gunakan sistem informasi yang paling mudah dipahami dan dilakukan dalam komunitas yang bersangkutan.  Pemasangan papan-papan pengumuman kegiatan, spanduk, majalah dinding, dan sebagainya merupakan media yang dapat digunakan dalam kegiatan ini. Pengalaman menyimpulkan bagaimana teknologi informasi yang paling sederhanalah yang paling efektif dan efisien pada masyarakat pedesaan di Indonesia.

g.      Evaluasi (Evaluation)
Evaluasi merupakan suatu tahapan penting dalam keseluruhan program pelayanan kesejahteraan sosial.  Proses inilah yang akan menunjukkan apakah program pelayanan yang dilaksanakan telah menjawab persoalan yang muncul atau tidak, apakah program yang telah dilaksanakan benar-benar memenuhi kebutuhan klien atau tidak, sesuai dengan prosedur atau tidak, bagaimana hambatan yang dialami, dan sebagainya.  Dengan kata lain, evaluasi merupakan proses penting yang harus dilaksanakan untuk melihat apakan suatu program pelayanan mengalami kegagalan atau keberhasilan secara lengkap.

Kegiatan
Strategi
Teknik
1. Sosialisasi & Dialog
a.       Membangun relasi
b.      Mengembangkan kepercayaan
c.       Meningkatkan motivasi & kerjasama
2. Penyuluhan sosial

-   Sosialisasi bertingkat
-   Melibatkan diri dalam kegiatan masyarakat
-   Melibatkan masyarakat dlm kegiatan
- Kampanye

- Ceramah
- Tanya jawab
- Community Involvement
- Cooptasi/ bergabung
- Persuasi
- Memanfaatkan media massa
- Edukasi/pendidikan
2. Menemukenali kebutuhan & sumber-sumber
a.       Mendefinisikan tantangan/masalah, potensi/sumber & peluang-peluang
b.      Menentukan arah/tujuan perubahan/kegiatan


- Melakukan Assesmen melalui pertemuan formal

-    Metode Asesmen Partisipatif (MPA)
-    Diskusi Kelompok Terfokus (FGD)
3. Perencanaan Kegiatan
a.       Menggali potensi/sumber masyarakat
b.      Analisis potensi & sumber masyarakat
c.       Menentukan partisipan (pihak-pihak yang dilibatkan)
d.      Merumuskan pemecahan masalah
e.       Menguatkan kesepakatan & kerjasama


- Pemetaan  potensi dan sumber
- Perencanaan partisipatif

-       Diagram Venn
-       Tools of Participation (TOP)
4. Pelaksanaan Kegiatan
a.       Mengaktifkan & meningkatkan interaksi sosial di antara kelompok-kelompok yang ada
b.      Memobilisasi & memanfaatkan suatu sumber
c.       Memperluas dukungan & jaringan-jaringan kerjasama untuk memperluas pencapaian hasil

-     Pengorganisasian kelompok
-     Penilaian dan Penguatan kelompok
-     Pelibatan masyarakat dalam kegiatan pembangunan
-     Pengembangan dukungan dan jaringan kerjasama

-       PEKA
-       Pelatihan-pelatihan
-       Teknik demonsrasi
-       Teknik kerja kelompok

5. Monitoring & Evaluasi
a.       Memulai keberhasilan kegiatan
b.      Pendampingan untuk kesinambungan pengembangan sistem informasi
c.       Evaluasi keseluruhan program kegiatan

- Evaluasi proses     partisipatif
- Pendampigan
- Evaluasi akhir partisipatif

- Alat Moneva
- FGD

1 komentar:

  1. Slot machines rigged - Casino Online
    Slot 순천 출장마사지 machines rigged. Casino Online The best casinos for this 한게임 포커 type of 당진 출장마사지 gambling is The 춘천 출장샵 Borgata, which opened its doors to gamblers a few months ago. It 사천 출장안마 offers its

    BalasHapus