PENDEKATAN BERPUSAT PADA TUGAS DALAM PEKERJAAN
SOSIAL
A.
Konsep Pendekatan
Berpusat pada Tugas
Pendekatan berpusat pada
tugas (Task Centred
Approach) difokuskan dalam menetapkan kategori-kategori dari masalah yang ada.
Pendekatan ini mencoba untuk memperbaiki kekuatan-kekuatan dalam
masyarakat guna menghadapi masalah yang dimaksud.
Selain
itu, pendekatan berpusat pada tugas juga berfokus pada penampilan tugas praktis/pragmatis yang akan memecahkan masalah
tertentu dan berkonsentrasi pada masalah yang ditunjukan daripada
penyebab masalah.
Sedangkan
pendekatan yang dikembangkan oleh Reid dan Epstein lebih memfokuskan diri pada proses
konseling pemecahan masalah yang dilakukan agar efektif yaitu dengan melibatkan
klien. Pendekatan ini berasumsi bahwa klien mengakui dan menerima, bisa tertangani
bila ada kerjasama, bisa didefinisikan secara jelas, dari rasa ketidakpuasan klien
dengan lingkungan sekitar serta adanya keinginan untuk berubah.
B.
Tujuan Pendekatan Berpusat pada Tugas dalam Konseling
Tujuan
utama pendekatan berpusat pada tugas ini adalah untuk membimbing atau melatih
klien dalam menjalankan tugas-tugas kehidupannya.
Pendekatan
berpusat pada tugas/klien yang dikembangkan oleh Carl Ransom Rogers tahun 1942
bertujuan untuk membina kepribadian tugas/klien secara integral, berdiri
sendiri, dan mempunyai kemampuan untuk memecahkan masalah sendiri.
Kepribadian
yang integral adalah struktur kepribadiannya tidak terpecah artinya sesuai
antara gambaran tentang diri yang ideal (ideal-self) dengan kenyataan diri
sebenarnya (actual-self).
Kepribadian
yang berdiri sendiri adalah yang mampu menentukan pilihan sendiri atas dasar
tanggung jawab dan kemampuan. Tidak tergantung pada orang lain. Sebelum
menentukan pilihan tentu individu harus memahami dirinya (kekuatan dan
kelemahan diri), dan kemudian keadaan diri tersebut harus ia terima. Dan
dari kekuatan dan
kelemahan tersebut individu harus bias menerima dirinya sendiri. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa pada dasarnya tujuan konseling berpusat pada person adalah sama dengan tujuan kehidupan (fully functioning person) yaitu kepribadiaan yang berfungsi sepenuhnya yang mencakup pada keterbukaan pada pengalaman, kepercayaan terhadap diri sendiri dan kemampuan mengambil keputusan.
kelemahan tersebut individu harus bias menerima dirinya sendiri. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa pada dasarnya tujuan konseling berpusat pada person adalah sama dengan tujuan kehidupan (fully functioning person) yaitu kepribadiaan yang berfungsi sepenuhnya yang mencakup pada keterbukaan pada pengalaman, kepercayaan terhadap diri sendiri dan kemampuan mengambil keputusan.
Untuk
mencapai tujuan itu diperlukan beberapa syarat yakni:
1. Kemampuan dan keterampilan teknik konselor,
Adapun kemampuan dan keterampilan yang harus dimiliki seorang
konselor, misalnya:
a. Menangkap Pesan Utama (
Paraphrasing)
Untuk
memudahkan klien dalam memahami ide, perasaan, dan pengalamannya, seorang
konselor perlu menangkap pesan utamanya, dan menyatakannya secara sederhana dan
mudah dipahami disampaikan dengan bahasa konselor sendiri.
b. Bertanya untuk Membuka
Percakapan (Open Question)
Kebanyakan
calon konselor sulit untuk membuka percakapan dengan klien. Hal ini karena
sulit menduga apa yang dipikirkan klien sehingga pertanyaan menjadi pas. Untuk
memudahkan percakapan seorang calon konselor dilatih keterampilannya bertanya
dalam bentuk open-ended yang memungkinkan munculnya pernyataan baru dari klien.
c. Bertanya Tertutup (Close
Question)
Tujuan
keterampilan bertanya tertutup bagi konselor adalah untuk mengumpulkan
informasi, untuk menjernihkan/ memperjelas sesuatu dan menghentikan omongan
klien yang melantur atau menyimpang jauh.
d. Dorongan Minimal (Minimal
Encouragement)
Keterampilan
ini bertujuan untuk membuat agar klien terus berbicara dan dapat mengarahkan
agar pembicaraan mencapi tujuan. Akan tetapi penggunaan dorongan minimal
dilakukan secara selektif yaitu memilih saat klien kelihatan akan mengurangi
atau menghentikan pembicaraan.
2. Kesiapan klien untuk menerima bimbingan,
Agar konseling lebih efektif, sebaiknya
kesiapan tidak hanya datang dari konselornya, namun juga datang dari klien itu
sendiri untuk bekerjasama dalam proses konseling tersebut.
Selain itu, diperlukan bagi konselor untuk
memberikan informasi yang berkaitan atau diperlukan dalam proses konseling
tersebut.
3. Taraf intelegensi klien
yang memadai.
Tingkat intelegensi klien juga
mempengaruhi kelancaran proses konseling. Misalnya kecepatan pemahaman dan
respon klien terhadap apa yang dikatakan konselor dan situasi yang dihadapinya.
C.
Keyakinan Dasar tentang
Harkat dan Martabat Manusia dalam Pendekatan Berpusat pada Tugas
Corak dari pendekatan berpusat pada tugas dalam konseling
berpijak pada beberapa keyakinan dasar tentang martabat manusia dan hakikat
kehidupan manusia. Keyakinan-keyakinan itu untuk sebagian bersifat falsafah dan
untuk sebagian bersifat psikologis sebagai berikut:
1. Setiap manusia berhak
mempunyai setumpuk pandangan sendiri dan menentukan haluan hidupnya sendiri,
serta bebas untuk mengajar kepentinganya sendiri selama tidak melanggar hak-hak
orang lain,
2. Manusia pada dasarnya
berakhlak baik, dapat diandalkan, dapat diberi kepercayaan, cenderung bertindak
konsruktif,
3. Manusia, seperti
mahluk-mahluk hidup yang lain, membawa dalam dirinya sendiri kemampuan,
dorongandan kecenderungan untuk mengembangkan diri sendiri semaksimal mungkin.
4. Cara berprilaku sesorang
dan cara menyesuaikan dirinya terhadap keadaan hidup yang dihadapinya, selalu
sesuai dengan pandanganya sendiri terhadap diri sendiri dan keadaan yang dihadapi,
5. Seseorang akan menghadapi
pesoalan jika di antara unsur-unsur dalam gambaran terhadap diri sendiri timbul
konflik dan pertentangan, lebih-lebih antara siapa saya ini sebenarnya (real
self) dan saya seharusnya orang yang bagaimana (ideal self).
D.
Kaitan Pendekatan
Berpusat pada Tugas dengan Masalah
Dalam konseling,
pendekatan berpusat pada tugas memiliki kaitan dengan masalah yang :
1.
Klien
ketahui atau terima,
2.
Dapat
dipecahkan melalui tindakan bersama pekerja sosial,
3.
Dapat
didefinisikan dengan jelas,
4.
Berasal
dari sesuatu yang
klien ingin perubahan dalam
kehidupannya,
5.
Berasal
dari klien yang
keinginannya tidak terpuaskan bukan dari luar.
E.
Masalah yang Dihadapi
dalam Pendekatan Berpusat pada Tugas
Adapun masalah yang
dihadapi dalam pendekatan berpusat pada tugas, diantaranya:
1.
Konflik
interpersonal,
Konflik interpersonal adalah kondisi yang ditimbulkan
oleh kekuatan yang saling bertentangan di antara 2 orang. Kekuatan-kekuatan ini
bersumber pada manusia. Istilah konflik Interpersonal sendiri diterjemahkan
dalam beberapa istilah yaitu perbedaan pendapat, persaingan dan permusuhan.
Perbedaan pendapat tidak selalu berarti perbedaan keinginan. Oleh karena
konflik Interpersonal bersumber pada keinginan, maka perbedaan pendapat tidak
selalu berarti konflik.
Ada beberapa definisi
konflik interpersonal menurut para ahli, yaitu:
a.
Riggio mendefinisikan bahwa konflik
interpersonal adalah konflik yang terjadi ketika dua individu berusaha mencapai
tujuan mereka, hingga menghalangi prestasi individu lain,
b.
Menurut Shantz dan Hartup, konflik
interpersonal merupakan suatu masalah serius yang dapat dihadapi oleh semua
orang sebab konflik tersebut dapat berpengaruh cukup mendalam terhadap emosi
seseorang,
c. Menurut
Bimo walgito, Konflik interpersonal adalah konflik yang timbul di antara dua
orang yang saling bertentangan antara satu dengan yang lainnya,
d.
Menurut Robbins, Konflik Interpersonal adalah
proses yang bermula ketika
satu orang merasakan bahwa orang lain telah mempengaruhi secara negatif, atau akan segera mempengaruhi secara negatif.
Sehingga dapat diambil kesimpulan bahwa
Konflik Interpersonal adalah pertentangan dalam hubungan kemanusiaan antara
satu orang dengan orang lain dalam mencapai suatu tujuan, yang timbul akibat
adanya perbedaan kepentingan, emosi dan nilai.
2.
Relasi
sosial yang
tidak puas,
Relasi
sosial diartikan sebagai cara-cara individu bereaksi terhadap dirinya (Anna
Alishahbana, dkk.: 1984). Relasi atau hubungan sosial ini menyangkut juga
penyesuaian diri terhadap lingkungan seperti makan sendiri, berpakaian sendiri,patuh
pada peraturan dan lain-lain. Hubungan sosial
diawali dari rumah sendiri yang kemudian berkembang dalam lingkup sosial yang lebih luas, seperti sekolah dan
teman sebaya, kesulitan anak berhubungan sosial dengan teman sebaya ini biasanya
disebabkan oleh pola asuh yang penuh dengan unjuk kuasa oleh orang tua. Situasi
kehidupan dalam keluarga berupa pola asuh orang tua yang salah, pada umumnya
masih bias diperbaiki oleh orang tua itu sendiri, tetapi situasi pergaulan
dengan teman-teman sebaya cenderung sulit di perbaiki (Sunarto : 1998).
Hubungan sosial ini
sangat penting peranannya. Dalam hubungan sosial akan terdapat adanya rasa aman
atau tidak aman. Rasa aman inilah yang menjadi dambaan seseorang dalam hubungan
sosial. Mengapa rasa aman ditekankan di sini, karena rasa aman inilah yang
dapat menjadikan orang merasa bahagia. Rasa aman ini akan didapat seseorang
bila hubungan sosialnya memuaskan.
Keberhasilan
sesorang di dalam hidupnya semata-mata tidak ditentukan oleh kepandaian otaknya
saja. Masih ada faktor lain yang penting, yaitu pergaulan sosial. Bagaimana
seseorang itu bergaul dengan lingkungannya akan memberikan pengaruh terhadap
keberhasilan seseorang dalam hidupnya. Kita lihat contoh disekeliling kita, ada
orang yang pandai tetapi sangat sulit untuk bergaul, dan ada orang yang kurang
pandai tetapi sangat mudah bergaul, yang berarti hubungan sosialnya baik.
Sehingga dapat dikatakan orang yang mudah bergaul itulah yang dapat merasakan
kebahagiaan.
Dengan alasan di atas
tadi jelaslah bahwa setiap orang ingin mengusahakan hubungan sosial yang baik,
yang memuaskan untuk dapat sukses dalam usahanya mencapai ketenangan batin.
Dalam hubungan sosial, ada kiat-kiat yang dapat membantu kita agar hubungan
sosial berjalan dengan baik. Yang dimaksud di sini, adalah suatu pengertian, dari kita terhadap orang
lain. Dalam psikologi, dikenal istilah individual differences, maksudnya
adalah adanya perbedaan individual. Individu tidaklah sama, masing-masing
mempunyai ciri-ciri berbeda. Oleh sebab itu tidak semua orang mempunyai sifat
dan sikap hubungan sosial yang sama.
3.
Masalah
dalam organisasi formal,
Konflik
organisasional timbul karena beberapa sumbernya, dan berbagai sumber utama
konflik tersebut dapat diuraikan sebagai berikut:
a.
Kebutuhan
untuk membagi sumber daya- sumber daya yang terbatas,
b.
Perbedaan-perbedaan
dalam berbagai tujuan,
c.
Saling
ketergantungan kegiatan-kegiatan kerja,
d.
Perbedaan
nilai-nilai atau persepsi,
e.
Gaya-gaya
individual.
Individu-individu
dalam organisasi mempunyai banyak tekanan pengoperasian organisasional yang
menyebabkan konflik, secara lebih konseptual literal mengemukakan empat
penyebab konflik organisasional, yaitu:
a.
Suatu
situasi di mana tujuan-tujuan tidak sesuai,
b.
Keberadaan
peralatan-peralatan yang tidak cocok atau alokasi-alokasi sumber daya yang tidak sesuai,
c.
Suatu masalah
ketidaktepatan status,
d.
Perbedaan
persepsi.
Dalam suatu organisasi
terdapat empat bidang struktural, dan di bidang itulah konflik sering terjadi,
yaitu:
a.
Konflik
hirarkis, adalah konflik antar berbagai tingkatan organisasi,
b.
Konflik
fungsional, adalah konflik antara berbagai departemen fungsional organisasi,
c.
Konflik
lini-staf, adalah konflik antara lini dan staf,
d.
Konflik
formal informal, adalah konflik antara organisasi formal dan organisasi
informal.
4.
Kesulitan
dalam penampilan peranan,
Yaitu masalah-masalah yang berkaitan dengan tidak
terlaksananya peranan-peranan dalam kehidupan personal dan sosial dari individu
yang dikarenakan adanya hambatan-hambatan yang menyebabkan kesulitan dalam
menampilkan peranan-peranan individu yang seharusnya.
5.
Masalah
keputusan,
Yaitu masalah-masalah yang berkaitan dengan adanya
kebingungan-kebingungan atau kebimbangan-kebimbangan seseorang dalam pengambilan suatu
keputusan. Di dalam
pengambilan keputusan seorang konselor harus bisa mengatasi masalah-masalah
dengan cara memegang teguh prinsip-prinsip etika dan nilai yang ada dalam
masyarakat untuk menjadi pegangan dalam pengambilan keputusan.
6.
Stress emosional reaktif,
Stres emosi yang reaktif adalah suatu perasaan atau kondisi yang
ditujukan kepada orang lain secara tiba-tiba timbul atau muncul.
7.
Sumber
daya yang
tidak memadai.
Sumber daya yang tidak memadai misalnya dari sumber
daya manusia, sumber daya alam, sumber daya teknologi dan lain-lainsehingga menimbulkan masalah bagi kehidupan
klien.
F.
Tugas-Tugas Pekerja
Sosial dengan Klien dalam Pendekatan
Berpusat pada Tugas
Dalam prakteknya, pendekatan berpusat pada tugas tidak menggunakan
assesmen, seperti teori psikodinamika untuk mempelajari respon dari emosi
klien, tetapi untuk mengidentifikasikan syarat/keperluan dalam tindakan,
rintangan dalam tindakan dan desakan yang tak berubah.
Adapun tugas-tugas antara pekerja sosial dengan
klien dalam pendekatan berpusat pada tugas antara lain :
1. Assesment
Di dalam asessment, tugas pekerja sosial bersama klien
adalah menganalisis masalah klien juga
merumuskan masalah tersebut, identifikasi masalah potensial, kesepakatan sementara terhadap masalah, menantang mendifinisikan masalah yang tidak diinginkan/terpecahkan, mendapat detail masalah, identifikasi baseline, memutuskan perubahan yang diinginkan.
2.
Membuat kontrak
Kontrak atau perjanjian adalah kesepakatan antara dua orang
atau lebih mengenai hal tertentu yang disetujui oleh mereka. Membuat kontrak berarti setuju untuk bekerja pada masalah yang dipilih, membuat prioritas
masalah, menentukan hasil yang diinginkan dari
intervensi, merancang seperangkat tugas, sepakat sejumlah
kontak dan batas waktu, kontak.
Selain itu di dalam kontrak pekerja sosial dengan klien menentukan
pihak-pihak mana saja yang akan terlibat selama proses pemecahan masalah. Juga
kesepakatan mengenai biaya atas jasa yang diberikan pekerja sosial.
3. Merencanakan tugas-tugas
pemecahan masalah
Perencanaan adalah
proses perumusan kegiatan atau tugas-tugas yang akan dilakukan pekerja sosial
dengan klien dalam mencapai pemecahan masalah klien.
Pekerja sosial bersama klien dalam merencanakan tugas-tugas pemecahan
masalah harus didasarkan pada asesmen agar tidak terjadi kekeliruan dalam
pemecahan masalah tersebut.
4.
Menentukan
reward dan tujuan
Pekerja sosial
menentukan insentif (pendorong atau perangsang) agar klien mempunyai motivasi
untuk melakukan perubahan dengan memberikan reward. Selain itu pekerja sosial
perlu menjelaskan tujuan pemecahan
masalah dan manfaat apa yang akan
diterima oleh klien jika masalah yang dialami klien tersebut terpecahkan.
5.
Mengatasi
hambatan
Perlu diketahui
perbedaan antara masalah dan hambatan. Masalah
merupakan kesulitan-kesulitan yang telah disepakati dari awal oleh
pekerja sosial dan klien, sedangkan hambatan merupakan kesulitan-kesulitan yang
muncul selama proses pemecahan masalah. Hambatan ini perlu diatasi untuk
memperlancar proses pemecahan masalah dan harus cepat tertangani agar tidak
menimbulkan masalah baru.
6.
Simulasi
dan bimbingan praktis
Dalam
pendekatan berpusat pada tugas (task centred approach), pekerja sosial perlu
memberikan simulasi atau pelatihan-pelatihan serta bimbingan praktis berkaitan
dengan tugas-tugas yang akan dilakukan klien dalam proses pemecahan masalahnya.
Misalnya klien yang akan melamar pekerjaan dan harus melakukan interview atau
wawancara sedangkan ia sendiri mengalami kesulitan dalam berkomunikasi ataupun
kurang percaya diri, maka klien tersebut dapat melakukan simulasi atau latihan
dengan pekerja sosial terlebih dahulu. Pekerja sosial juga memberikan
bimbingan-bimbingan berkaitan dengan hal tersebut.
7.
Kajian
tugas-tugas pemecahan masalah (evaluasi)
Dalam hal ini,
pekerja sosial perlu mengevaluasi dan melihat perkembangan dari klien apakah
tugas pemecahan masalah tersebut sudah berjalan efektif dan dapat mencapai
sasaran atau tidak.
8.
Analisis
kontekstual
Yaitu menentukan
faktor-faktor yang mendukung dan menghambat dalam tugas-tugas pemecahan masalah
serta bagaimana mengatasinya.
9.
Terminasi
Terminasi adalah
suatu proses pengakhiran kerjasama di antara pekerja sosial dengan klien
(berakhirnya kontrak kerja).
Dalam terminasi,
pekerja sosial perlu menunjukan kemajuan-kemjuan yang dialami oleh klien baik
kemampuan klien itu sendiri maupun hasil pencapaian tujuan. Selain itu pekerja
sosial harus memberikan dukungan (membesarkan hati klien) dan meyakinkan klien
bahwa dia seseorang yang kuat, mandiri dan memiliki kemampuan untuk memcahkan
masalah sendiri. Selain itu, pekerja sosial perlu menjelaskan bahwa proses
terminasi tersebut bukan berarti putusnya komunikasi atau hubungan silahturahmi
di antara pekerja sosial dengan klien melainkan sebatas pemutusan proses pertolongan.
G. Teknik
Konseling dalam Pendekatan Berpusat pada Tugas / Klien
Penekanan masalah ini adalah dalam hal filosofis dan
sikap konselor ketimbang teknik. Dan mengutamakan hubungan konseling ketimbang
perkataan dan perbuatan konselor.
Implementasi teknik konseling didasari atas faham
filsafat serta sikap konselor. Karena itu penggunaan teknik seperti pertanyaan
dorongan, interpretasi, dan sugesti dipakai dalam frekuensi yang rendah. Yang
lebih utama ialah pemakaian teknik konseling bervariasi dengan tujuan
pelaksanaan filosofi dan sikap tadi. Karena itu teknik konseling Rogers
berkisar antara lain pada cara-cara penerimaan pernyataan dan komunikasi,
menghargai orang lain, dan memahami klien.
Karena itu dalam pelaksanaan teknik konseling amat
diutamakan sifat-sifat konselor berikut :
1.
Acceptance artinya konselor menerima klien sebagaimana adanya
dengan segala masalahnya. Jadi sikap konselor adalah menerima secara netral.
2.
Congruence artinya karakteristik konselor adalah terpadu, sesuai
kata dengan perbuatan, dan konsisten.
3.
Understanding artinya konselor harus dapat secaraakurat dan
memahami secara empati dunia klien sebagaimana dilihat dari dalamdiri klien
itu.
4.
Nonjudgmental artinya tidak memberi penilaian terhadap
klien, akan tetapi konselor selalu objektf.
KESIMPULAN
Pendekatan berpusat pada
tugas (Task Centred
Approach) difokuskan dalam menetapkan kategori-kategori dari masalah yang ada.
Pendekatan ini mencoba untuk memperbaiki kekuatan-kekuatan dalam
masyarakat guna menghadapi masalah yang dimaksud.
Tujuan
utama pendekatan berpusat pada tugas ini adalah untuk membimbing atau melatih
klien dalam menjalankan tugas-tugas kehidupannya.
Corak dari pendekatan berpusat pada tugas dalam
konseling berpijak pada beberapa keyakinan dasar tentang martabat manusia dan
hakikat kehidupan manusia. Keyakinan-keyakinan itu untuk sebagian bersifat
falsafah dan untuk sebagian bersifat psikologis
Dalam konseling,
pendekatan berpusat pada tugas memiliki kaitan dengan masalah yang :
1. Klien ketahui atau terima,
2. Dapat dipecahkan melalui tindakan bersama pekerja sosial,
3. Dapat didefinisikan dengan jelas,
4. Berasal dari sesuatu yang klien ingin perubahan dalam kehidupannya,
5. Berasal dari klien yang keinginannya tidak terpuaskan bukan dari luar.
Adapun masalah yang
dihadapi dalam pendekatan berpusat pada tugas, diantaranya:
1.
Konflik
interpersonal,
2.
Relasi
sosial yang
tidak puas,
3.
Masalah
dalam organisasi formal,
4.
Kesulitan
dalam penampilan peranan,
5.
Masalah
keputusan,
6.
Stress emosional reaktif,
7.
Sumber
daya yang
tidak memadai.
Adapun tugas-tugas antara pekerja sosial dengan
klien dalam pendekatan berpusat pada tugas antara lain :
1.
Assesment
2.
Membuat kontrak
3.
Merencanakan tugas-tugas pemecahan masalah
4.
Menentukan
reward dan tujuan
5.
Mengatasi
hambatan
6.
Simulasi
dan bimbingan praktis
7.
Kajian
tugas-tugas pemecahan masalah (evaluasi)
8.
Analisis
kontekstual
9.
Terminasi
Implementasi teknik konseling didasari atas faham
filsafat serta sikap konselor. Karena itu penggunaan teknik seperti pertanyaan
dorongan, interpretasi, dan sugesti dipakai dalam frekuensi yang rendah. Yang
lebih utama ialah pemakaian teknik konseling bervariasi dengan tujuan
pelaksanaan filosofi dan sikap tadi. Karena itu teknik konseling Rogers
berkisar antara lain pada cara-cara penerimaan pernyataan dan komunikasi,
menghargai orang lain, dan memahami klien.
DAFTAR PUSTAKA
Paine, Malcolm. 2006. Modern Social Work Theory. Bandung: Blue Campus Dago Tiga Enam
Tujuh.
Willis, Sofyan S.
2004. Konseling Individual: Teori dan
Praktek. Bandung: Alfabeta
Winkell,W.S. dan
Sri Hastuti. 2004. Bimbingan dan Konseling di Institusi Pendidikan. Yogyakarta:
Media Abadi
http://blogs.unpad.ac.id/teguhaditya diunduh
pada tanggal 22 Maret 2012 pukul 09.01
http://www.g-excess.com/3377/makalah-dan-pengertian-hubungan-sosial/ diunduh
pada tanggal 22 Maret 2012 pukul 09.03
http://tiang-awan.tripod.com/art2-hubsos.htm diunduh
pada tanggal 22 Maret 2012 pukul 09.01 diunduh pada tanggal 22 Maret 2012 pukul
09.06
http://id.shvoong.com/social-sciences/education/2134162-tujuan-konseling-berpusat-pada-person/#ixzz1qCZat8Si diunduh pada tanggal 22 Maret 2012 pukul 09.12
LAMPIRAN
HASIL
DISKUSI
Moderator : FinandaBuheli 10.04.204
Notulen : Zulkiah Patamani 10.04.202
SESI
1 :
1.
Dani
Yulizar 10.04.027
Jelaskan point perpoint pada
pendekatanberpusat pada tugas, dalam mengatasi hambatan atau masalah dalam
pendekatan berpusat pada tugas (Jelaskan dalam konflik Interpersonal) ?
Dijawab : Evie afrianty, tambahan Nadhia
Soraya A.
2.
Moh.
Rezky Oka 10.04.246
Mengapa proses pertolongan pada pendekatan
berpusat pada tugas dilkukan dahulu identifikasi lalu melakukan kontrak ?
Dijawab : Rita Tejaprianti, tambahan Wisnu
Wijayanto dan Evie Afrianty.
3.
Septi
Ayu Saputri 10.04.204
Dalam proses pendekatan yang berpusat pada
tugas, jelaskan maksud dari tugas alternatif ?
Dijawab : Evie Afrianty.
SESI 2 :
1.
Ega
Diva Erturin 10.04.071
Bagaimanaterjadi konflik interpersonal pada
proses dan klien (cara mengatasinya) ?
Dijawab : Wisnu Wijayanto
2.
Firman
Maulana 10.04.016
Sebutkan kelebihan, kekurangan dan manfaat
pada pendekatan yang berpusat pada tugas ?
Dijawab : Rita Tejaprianti, tambahan Nadhia
Soraya A, Evie Afrianty
3.
Yulliani
10.04.300
Pada spesifikasi masalah tidak terdapat
asesmen padahal asesmen sangat
diperlukan. Bagaimana dalam pendekatan berpusat pada tugas dalam melakukan
perencanaan tugas sementara asesmen tidak ada ?
Dijawab : Nadhia Soraya A, tambahan Evie
Afrianty
Tidak ada komentar:
Posting Komentar