Jumat, 15 Juni 2012

praktek pekerjaan sosial bidang industri


PEKERJAAN SOSIAL INDUSTRI

A.    Definisi Pekerjaan Sosial Industri

Pekerjaan sosial industri dapat didefinisikan sebagai lapangan praktik pekerjaan sosial yang secara khusus menangani kebutuhan-kebutuhan kemanusiaan dan sosial di dunia kerja melalui berbagai intervensi dan penerapan metoda pertolongan yang bertujuan untuk memelihara adaptasi optimal antara individu dan lingkungannya,terutama dalam lingkungan pekerjaan. Kegiatan pekerjaan sosial industri antara lain adalah :
1.      program bantuan (bagi pegawai),
2.      promosi keshatan
3.      manajemen perawatan kesehatan,
4.      tindakan alternatif affirmatif (pembelaan),
5.      penitipan anak,
6.      perawatan lanjut usia,
7.      pengembangan sumber daya manusia (SDM),
8.      pengembangan organisasi, pelatihan, dan pengembangan karir, konseling bagi penganggur atau yang terkena pemutusan hubungan kerja (PHK),
9.      tanggung jawab sosial perusahaan (corporate social responbility),
10.  tunjangan-tunjangan pegawai,
11.  keamanan dan keselamatan kerja,
12.  pengembangan jabatan,
13.  perencanaan sebelum dan sesudah pensiun serta bantuan pemindahan kerja.

Pekerjaan sosial industri menggunakan pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai pekerjaan sosial dalam pemberian pelayanan , program, dan kebijakan bagi para pegawai dan keluarganya, manajemen perusahaan, serikat-serikat buruh dan bahkan masyarakat yang berada di sekitar perusahaan. Inti pekerjaan sosial industri meliputi kebijakan, perencanaan, dan pelayanan sosial pada persinggungan antara pekerja sosial dan dunia kerja. (Suharto 2006b).

Pekerjaan sosial industri mencangkup pelayanan sosial yang bersifat internal dan eksternal, pekerjaan sosial industri melibatkan program-program bantuan bagi pegawai, seperti pelayanan konseling. Terapi kelompok, dan pengembangan sumber daya manusia. Secara eksternal, pekerjaan sosial industri, berwujud dalam berbagai bentuk program CSR termasuk di dalamnya strategi dan program pengembangan masyarakat, pengembangan kebijakan sosial, dan advokasi sosial.
Hubungan antara PSI, CSR, dan ComDev


Pelayanan sosial internal :
Terapi individu, terapi kelompok, pengembangan sumber daya manusia
 
 
                       
                                                                                    


Oval: PSI
 

B.     Sejarah dan Perkembangan Pekerjaan Sosial Industri

Pekerjaan sosial industri terlahir dalam konteks pertumbuhan masyarakat industri. Pekerjaan sosial industri pertama kali muncul tahun 1800-an. Para pekerja sosial mulai terlibat di berbagai perusahaan Inggris, Jerman, dan Amerika Serikat sekitar tahun 1890, sedangkan di Perancis tahun 1920. Pada masa itu, beberapa perusahaan di sana menyewa apa yang disebut ” sekretaris kesejahteraan”,”pekerja kesejahteraan industri” , atau ”sekretaris sosial”. Di Jerman, pekerja sosial atau sosiater industri ini dikenal dengan nama arbeiter sozial, sedangkan di Perancis dinamakan consul de familie atau conseillers du travail (Suharto, 2006ab).

Pekerja sosial memiliki peranan penting dalam pemberian pelayann sosial, baik yang bersifat pencegahan, penyembuhan maupun pengembangan dalam sebuah perusahaan. Tugas utamanya adalah menangani masalah kesejahteraan, kesehatan, keselamatan kerja, relaxi buruh dan majikan, serta perencanaan dan pengorganisasian program-program pengembangan masyarakat bagi komunitas yang ada di sekitar perusahaan (Suharto, 1997;2006b). Karena tugas utamanya menangani permasalahan sosial yang terkait dengan perusahaan, sosiawan industri ini dikenal pula dengan nama pekerja sosial kepegawaian atau occupational social worker (Strausser, 1989).

Menurut Freud, fokus pekerjaan sosial harus menyentuh dunia kerja, karena ia memberi tempat aman bagi seseorang dalam realitas sebuah komunitas manusia (human community). Pada tahun 1975, seorang pioneer pekerjaan sosial, Bertha Reynolds memberi komentar atas pendapat Freud yang dikemukakan pada tahun 1930 itu. Menurut Reynolds, ” tempat kerja yang merupakan sebuah persimpangan kehidupan (the crossroads of life) sering kali diabaikan sebagai sebuah komunitas manusia”.

Pernyataan Reynolds tidak lagi berlaku dewasa ini. Sekarang ini kita telah menyaksikan peningkatan yang luar biasa dalam hal perhatian dan kehadiran profesi pekerjaan sosial di dunia kerja. Semenjak tahun 1970-an., pekerja sosial telah menemukan bahwa tempat kerja bukanlah untuk bekerja saja, tetapi merupakan sebuah tempat yang penting dan unik di mana para pegawainya perlu diberi informasi mengenai pelayanan-pelayanan yang tidak selalu terkait dengan pekerjaan. Tempat kerja juga merupakan tempat dimana diagnosis aktual mengenai kebutuhan dan pelayanan sosial tertentu dapat diberikan. (suharto, 2006b).

Industri merupakan salah satu bidang garapan profesi pekerjaan sosial yang paling muda. Namun, akar sejarah pekerjaan sosial industri di AS beranjak pada akhir abad ke-18 dan semakin dikenal pada awal abad ke-19 saat di mana istilah ”kapitalisme kesejahteraan” (welfare capitakism) semakin populer dan saat ”sekretaris sosial” (social secretaries) dipekerjakan di perusahaan. Kapitalisme kesejahteraan merujuk pada berbagai tunjangan dan pelayanan sosial yang disediakan secara sukarela oleh majikan dalam upaya mensosialisasikan, menjaga, dan mengontrol tenaga kerja kasar yang sangat dibutuhkan pada masa revolusi industri (Suharto, 2006b).

Pemicu lain yang menyebabkan lahirnya pekerjaan sosial industri di AS yaitu berkaitan dengan upaya para majikan untuk mangatasi masalah yang diakibatkan oleh meningkatnya wanita yang memasuki dunia kerja setelah perang sipil. Menurut Brandes, permulaan pekerjaan sosial medis berakar pada suatu bentuk seksisme (sexism) akibat tumbuhnya bisnis dan majikan mengalami peningkatan pegawai wanita. Para majikan menghadapi kesulitan manangani masalah pegawai wanita yang ”ganjil” karena pada saat itu, fenomena pekerja wanita masih sangat sedikit. Sebagai solusinya yaitu dengan menyewa seorang spesialis. Spesialis yang pertama yaitu ibu Anggie Dunn yang disewa pada tahun 1875 sebagai sekretaris sosial pada perusahaan H.J. Heinz di Pittsburg ( Suharto, 2006b).

Perkembangan pekerjaan sosial industri ini juga didorong dengan munculnya Pusat Kesejahteraan Sosial Industri (the Industrial Social Welfare Center) yang dibentuk tahun 1969 di sekolah pekerjaan sosial Columbia University di bawah arahan Hyman J. Weiner dan didanai oleh pelayanan sosial dan rehabilitasi, departemen Kesehatan, Departemen Pendidikan, dan Kesejahteraan AS. Lembaga ini memiliki 3 tujuan yaitu:
a.                Membangun bank pengetahuan dan informasi berkaitan dengan pemberian pelayanan sosial terhadap populasi para pegawai.
b.                Menyediakan bantuan teknis dan pelayanan konsultasi terhadap serikat buruh, perusahaan bisnis, dan lembaga-lembaga sosial.
c.                Memberi kontribusi pada pendidikan pekerja sosial dan profesi pertolongan lainnya (CUSSW dalam Suharto, 2006). Lembaga tersebut sangat berhasil dalam mencapai tujuan ini.

Pada pertengahan tahun 1970-a, perkembangan pekerjaan sosial industri yang tadinya secara terkotak-kotak (terserak) mulai mengkerucut melalui gerakan yang terorganisir (Suharto 2006b). Kemajuan ini berasal dario beberapa sebab, antara lain:
1.                 Menurunkan afiliasi para pekerja sosial profesional dengan sektor publik (semula sebagian besar pekerja sosial di lembaga pemerintah);
2.                 Semakin banyaknya pekerja sosial yang membuka praktek mandiri (privat);
3.                 Perubahan angkatan kerja karena masuknya kaum wanita, minoritas, dan orang dengan kecacatan (ODK) ke dunia industri;
4.                 Disahkan sebagai peraturan dengan perundang-undang yang terkait dengan pekerjaan, seperti the Hughes Act, the Vocational Rehabilitation Act, The OCCUPATIONAL Safety and health Act, the Employee Retirement Income Security ACT, the Age Discrimination in Employment Act, dan Title VII of the Civil Rights Act;
5.                 Meningkatnya kesadaran sosial mengenai dampak tempat kerja terhadap kesehatan mental dan kecanduan alcohol di kalangan pegawai.
Selain lima kondisi di atas, semakin populernya pekerjaan sosial industri juga dipicu oleh profesionalisme pada program-program penanggulangan alkoholisme di tempat kerja, evolusi program-program bantuan bagi pegawai (Employee Asistance Programs/EAPs), serta dibentuknya program-program pelatihan di sejumlah sekolah pekerjaan sosial di seluruh AS dan Kanada yang ke;ak meningkatkan kesempatan kerja dan tersedianya pekerja sosial yang terlatih untuk posisi-posisi baru.

C.    Pekerja Sosial dalam Pekerjaan Sosial Industri

1.    Bidang Garapan Pekerja sosial
Guna mengenal lebih jauh fungsi dan peranan pekerjaan sosial, di bawah ini disajikan beberapa contoh bidang garapan atau setting utama yang sering kali menjadi tempat berkiprah para pekerja sosial yaitu antara lain:
a)         Keluarga dan pelayanan anak: penguatan keluarga, konseling keluarga, pemeliharaan anak, dan adopsi, perawatan harian, pencagahan penelantaran, dan kekerasan dalam rumah tangga.
b)        Kesehatan dan rehabilitasi: pendampingan pasien di rumah sakit, pengembangan kesehatan masyarakat, kesehatan mental. Rehabilitasi vokational, rehabilitasi pecandu obat dan alkohol, pendampingan ODHA, harm reduction programmer.
c)         Pengembangan masyarakat: perencanaan sosial, pengorganisasian masyarakat, revitalisasi ketetanggaan, perawatan lingkungan hidup, kehutanan sosial, penguatan modal sosial, penguatan ekonomi kecil.
d)        Jaminan sosial: skema asuransi sosial, bantuan sosial, social fund, JKSM, jaringan pengaman sosial.
e)         Pelayanan kedaruratan: pengorganisasian bantuan: manajemen krisis, informasi dan rujukan, integrasi pengungsi, pengembangan peringatan dini masyarakat.
f)         Pekerjaan sosial sekolah: konseling penyesuaian sekolah, manajemen perilaku pelajar, manajemen tunjangan biaya pendidikan. Pengorganisasian makan siang murid, peningkatan partisipasi keluarga dan masyarakat dalam pendidikan.
g)        Pekerjaan sosial industri: program bantuan pegawai, penanganan stress, dan burnout, penempatan dan relokasi kerja, perencanaan pensiun, tanggung jawab sosial perusahaan (corporate social responbility).

2.    Masalah yang ditangani Pekerja Sosial
Berawal dari abad ke-14 di Inggris, masyarakat industri sangat ditentukan sistem pebrik. Pada zaman merkantilisme ini, pada awalnya laki-laki dan wanita bekerja di ladang atau pada perusahaan-perusahaan keluarga (informal) (Johnson,1984; Kartono, 1994).Hal ini memisahkan orang dewasa yang sebagian besar waktunya bekerja di pabrik dengan anak-anak yang ditinggalkan di rumah bersama keluarga besar atau tanpa pengawasan sama sekali. Pemisahan ini menjadi awal bagi dinamika keluarga dan masyarakat termasuk bagi munculnya permasalahan sosial yang diakibatkannya. Retaknya relasi sosial antara pekerja dan keluarganya, kurangnya kesempatan anak dalam meniru model peranan orangtua dan munculnya alinasi atau keterasingan pekerja dalam kehidupan masyarakatnya adalah beberapa contoh masalah sosial yang timbul akibat industrialisasi.

Mekanisme dan otyomatisasi melahirkan rutinitas pekerjaan dan membuat tenaga manusia tampak semakin tidak penting. Para pekerja kerah biru maupun kerah putih merasa tidak bermakna dan terancam karena kapan saja dapat digantikan oleh saingannya, yakni mesin. Perubahan teknologi, penggantian tenaga kerja (shift), dan pemutusan hubungan kerja yang semakin menjadi fenomena dalam kehidupan sehari-hari sering menimbulkan kecemasan bagi para pekerja. Proses otomatisasi di As menggantikan sekitar 2 juta pekerjaan setiap tahunnya. Para pekerja yang merasa tidak berguna dan tidak berdaya dalam pekerjaanya seringkali membawanya ke rumah dan masyarakat.
Johnson (1948:261) mengklasifikasikan akibat akibat industrialisasi yang bersifat negatif  terhadap kesejahteraan manusia ke dalam 5A yaitu:
a.       Alienation: perasaan keterasingan dari diri, keluarga, dan kelompok sosial yang menimbulkan apatis, marah, dan kecemasan.
b.      Alcoholism atau addiction: ketergantungan terhadap alkohol, obat-obat terlarang atau rokok yang dapat menurunkan produktivitas, meruasak kesehatan fisik dan psikis , dan kehidupan sosial seseorang.
c.       Absenteeism: kemangkiran kerja atau perilaku membolos kerja dikarenakan rendahnya motivasi pekerja, perasaan-perasaan malas, tidak berguna, tidak merasa memiliki perusahaan, atau sakit fisik dan psikis lainnya.
d.      Accidents: kecelakaab kerja yang diakibatkan oleh menurunnya konsentrasi pekerja atau oleh lemahnya sistem keselamaatan dan kesehatan lingkungan kerja.
e.       Abuse: bentuk-bentuk perlakuan salah terhadap anak-anak atau pasangan dalam keluarga (istri/suami), seperti memukul. Dan menghardik secara berlebihan yang ditimbulkan oleh frustasi, kebosanan, kelelahan di tempat pekerjaannya.

Beberapa permasalahan lainnya yang terkait dengan masalah industrialisasi adalah:
a.       diskriminasi di tempat kerja atau tindakan-tindakan tidak adil terhadap wanita, kaum minoritas, imigran, remaja, pensiunan, dan para penyandang cacat.
b.      polusi (udara, air,suara) dan kerusakan-kerusakan fisik dan psikis para pekerjanya.

3.    Tugas Pekerja Sosial Industri

Menurut Johnson (1984:263-264) ada 3 bidang tugas pekerja sosial yang bekerja di perusahaan antara lain:
a.       Kebijakan, perencanaan dan administrasi.
Bidang ini umumnya tidak melibatkan pelayanan sosial secara langsung. Sebagai contoh, perumusan kebijakan untuk peningkatan karir, pengadministrasian program-program tindakan afirmatif, pengkoordinasian program-program jaminan sosial dan bantuan sosial bagi para pekerja , atau perencanaan kegiatan-kegiatan sosial dalam departemen perusahaan.
b.      Praktik langsung dengan individu, keluarga, dan populasi khusus.
Tugas pekerja sosial dalam bidang ini meliputi intervensi krisis (crisis intervention), assesmen (penggalian) masalah-masalah personal, dan pelayanan rujukan, pemberian konseling bagi para pensiunan atau pekerja yang menjelang pensiun.
c.       Praktik yang mengkombinasikan pelayanan sosial langsung dan perumusan kebijakan sosial bagi perusahaan.
Para pekerja sosial telah memberikan kontribusi penting dalam memanusiakan dunia kerja. Mereka umumnya terlibat dalam konseling di dalam maupun di luar perusahaan, pengorganisasianprogram-program personal, konsultasi dengan manajemen dan serikat-serikat kerja mengenai konsekuensi kebijakan-kebijakan perusahaan terhadap pekerja, serta bekerja dengan bagian kesehatan dan kepegawaian untuk meningkatkan kondisi lingkungan kerja dan kualitas tenaga kerja (Johnson,1994;Suharto,1997).

TASK CENTER APPROACH DALAM PRAKTEK PEKERJAAN SOSIAL


PENDEKATAN BERPUSAT PADA TUGAS DALAM PEKERJAAN SOSIAL

A.    Konsep Pendekatan Berpusat pada Tugas

Pendekatan berpusat pada tugas (Task Centred Approach) difokuskan dalam menetapkan kategori-kategori dari masalah yang ada. Pendekatan ini mencoba untuk memperbaiki kekuatan-kekuatan dalam masyarakat guna menghadapi masalah yang dimaksud.
Selain itu, pendekatan berpusat pada tugas juga berfokus pada penampilan tugas praktis/pragmatis yang akan memecahkan masalah tertentu dan berkonsentrasi pada masalah yang ditunjukan daripada penyebab masalah.
Sedangkan pendekatan yang dikembangkan oleh Reid dan Epstein lebih memfokuskan diri pada proses konseling pemecahan masalah yang dilakukan agar efektif yaitu dengan melibatkan klien. Pendekatan ini berasumsi bahwa klien mengakui dan menerima, bisa tertangani bila ada kerjasama, bisa didefinisikan secara jelas, dari rasa ketidakpuasan klien dengan lingkungan sekitar serta adanya keinginan untuk berubah.

B.     Tujuan Pendekatan Berpusat pada Tugas dalam Konseling

Tujuan utama pendekatan berpusat pada tugas ini adalah untuk membimbing atau melatih klien dalam menjalankan tugas-tugas kehidupannya.
Pendekatan berpusat pada tugas/klien yang dikembangkan oleh Carl Ransom Rogers tahun 1942 bertujuan untuk membina kepribadian tugas/klien secara integral, berdiri sendiri, dan mempunyai kemampuan untuk memecahkan masalah sendiri.
Kepribadian yang integral adalah struktur kepribadiannya tidak terpecah artinya sesuai antara gambaran tentang diri yang ideal (ideal-self) dengan kenyataan diri sebenarnya (actual-self).
Kepribadian yang berdiri sendiri adalah yang mampu menentukan pilihan sendiri atas dasar tanggung jawab dan kemampuan. Tidak tergantung pada orang lain. Sebelum menentukan pilihan tentu individu harus memahami dirinya (kekuatan dan kelemahan diri), dan kemudian keadaan diri tersebut harus ia terima. Dan dari kekuatan dan
kelemahan tersebut individu harus bias menerima dirinya sendiri. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa pada dasarnya tujuan konseling berpusat pada person adalah sama dengan tujuan kehidupan (fully functioning person) yaitu kepribadiaan yang berfungsi sepenuhnya yang mencakup pada keterbukaan pada pengalaman, kepercayaan terhadap diri sendiri dan kemampuan mengambil keputusan.
Untuk mencapai tujuan itu diperlukan beberapa syarat yakni:
1.      Kemampuan dan keterampilan teknik konselor,
Adapun kemampuan dan keterampilan yang harus dimiliki seorang konselor, misalnya:
a.       Menangkap Pesan Utama ( Paraphrasing)
Untuk memudahkan klien dalam memahami ide, perasaan, dan pengalamannya, seorang konselor perlu menangkap pesan utamanya, dan menyatakannya secara sederhana dan mudah dipahami disampaikan dengan bahasa konselor sendiri.

b.      Bertanya untuk Membuka Percakapan (Open Question)
Kebanyakan calon konselor sulit untuk membuka percakapan dengan klien. Hal ini karena sulit menduga apa yang dipikirkan klien sehingga pertanyaan menjadi pas. Untuk memudahkan percakapan seorang calon konselor dilatih keterampilannya bertanya dalam bentuk open-ended yang memungkinkan munculnya pernyataan baru dari klien.

c.       Bertanya Tertutup (Close Question)
Tujuan keterampilan bertanya tertutup bagi konselor adalah untuk mengumpulkan informasi, untuk menjernihkan/ memperjelas sesuatu dan menghentikan omongan klien yang melantur atau menyimpang jauh.


d.      Dorongan Minimal (Minimal Encouragement)
Keterampilan ini bertujuan untuk membuat agar klien terus berbicara dan dapat mengarahkan agar pembicaraan mencapi tujuan. Akan tetapi penggunaan dorongan minimal dilakukan secara selektif yaitu memilih saat klien kelihatan akan mengurangi atau menghentikan pembicaraan.

2.      Kesiapan klien untuk menerima bimbingan,
Agar konseling lebih efektif, sebaiknya kesiapan tidak hanya datang dari konselornya, namun juga datang dari klien itu sendiri untuk bekerjasama dalam proses konseling tersebut.
Selain itu, diperlukan bagi konselor untuk memberikan informasi yang berkaitan atau diperlukan dalam proses konseling tersebut.

3.      Taraf  intelegensi klien yang memadai.
Tingkat intelegensi klien juga mempengaruhi kelancaran proses konseling. Misalnya kecepatan pemahaman dan respon klien terhadap apa yang dikatakan konselor dan situasi yang dihadapinya.

C.    Keyakinan Dasar tentang Harkat dan Martabat Manusia dalam Pendekatan Berpusat pada Tugas

Corak dari pendekatan berpusat pada tugas dalam konseling berpijak pada beberapa keyakinan dasar tentang martabat manusia dan hakikat kehidupan manusia. Keyakinan-keyakinan itu untuk sebagian bersifat falsafah dan untuk sebagian bersifat psikologis sebagai berikut:
1.      Setiap manusia berhak mempunyai setumpuk pandangan sendiri dan menentukan haluan hidupnya sendiri, serta bebas untuk mengajar kepentinganya sendiri selama tidak melanggar hak-hak orang lain,
2.      Manusia pada dasarnya berakhlak baik, dapat diandalkan, dapat diberi kepercayaan, cenderung bertindak konsruktif,
3.      Manusia, seperti mahluk-mahluk hidup yang lain, membawa dalam dirinya sendiri kemampuan, dorongandan kecenderungan untuk mengembangkan diri sendiri semaksimal mungkin.
4.      Cara berprilaku sesorang dan cara menyesuaikan dirinya terhadap keadaan hidup yang dihadapinya, selalu sesuai dengan pandanganya sendiri terhadap diri sendiri  dan keadaan yang dihadapi,
5.      Seseorang akan menghadapi pesoalan jika di antara unsur-unsur dalam gambaran terhadap diri sendiri timbul konflik dan pertentangan, lebih-lebih antara siapa saya ini sebenarnya (real self) dan saya seharusnya orang yang bagaimana (ideal self).

D.    Kaitan Pendekatan Berpusat pada Tugas dengan Masalah

Dalam konseling, pendekatan berpusat pada tugas memiliki kaitan dengan masalah yang :
1.      Klien ketahui atau terima,
2.      Dapat dipecahkan melalui tindakan bersama pekerja sosial,
3.      Dapat didefinisikan dengan jelas,
4.      Berasal dari sesuatu yang klien ingin perubahan dalam kehidupannya,
5.      Berasal dari klien yang keinginannya tidak terpuaskan bukan dari luar.

E.     Masalah yang Dihadapi dalam Pendekatan Berpusat pada Tugas

Adapun masalah yang dihadapi dalam pendekatan berpusat pada tugas, diantaranya:

1.      Konflik interpersonal,
Konflik interpersonal adalah kondisi yang ditimbulkan oleh kekuatan yang saling bertentangan di antara 2 orang. Kekuatan-kekuatan ini bersumber pada manusia. Istilah konflik Interpersonal sendiri diterjemahkan dalam beberapa istilah yaitu perbedaan pendapat, persaingan dan permusuhan. Perbedaan pendapat tidak selalu berarti perbedaan keinginan. Oleh karena konflik Interpersonal bersumber pada keinginan, maka perbedaan pendapat tidak selalu berarti konflik.
Ada beberapa definisi konflik interpersonal menurut para ahli, yaitu:
a.       Riggio mendefinisikan bahwa konflik interpersonal adalah konflik yang terjadi ketika dua individu berusaha mencapai tujuan mereka, hingga menghalangi prestasi individu lain,
b.      Menurut Shantz dan Hartup, konflik interpersonal merupakan suatu masalah serius yang dapat dihadapi oleh semua orang sebab konflik tersebut dapat berpengaruh cukup mendalam terhadap emosi seseorang,
c.       Menurut Bimo walgito, Konflik interpersonal adalah konflik yang timbul di antara dua orang yang saling bertentangan antara satu dengan yang lainnya,
d.         Menurut Robbins, Konflik Interpersonal adalah proses yang bermula ketika satu orang merasakan bahwa orang lain telah mempengaruhi secara negatif, atau akan segera mempengaruhi secara negatif.
Sehingga dapat diambil kesimpulan bahwa Konflik Interpersonal adalah pertentangan dalam hubungan kemanusiaan antara satu orang dengan orang lain dalam mencapai suatu tujuan, yang timbul akibat adanya perbedaan kepentingan, emosi dan nilai.

2.      Relasi sosial yang tidak puas,
Relasi sosial diartikan sebagai cara-cara individu bereaksi terhadap dirinya (Anna Alishahbana, dkk.: 1984). Relasi atau hubungan sosial ini menyangkut juga penyesuaian diri terhadap lingkungan seperti makan sendiri, berpakaian sendiri,patuh pada peraturan dan lain-lain. Hubungan sosial diawali dari rumah sendiri yang kemudian berkembang dalam lingkup sosial yang lebih luas, seperti sekolah dan teman sebaya, kesulitan anak berhubungan sosial dengan teman sebaya ini biasanya disebabkan oleh pola asuh yang penuh dengan unjuk kuasa oleh orang tua. Situasi kehidupan dalam keluarga berupa pola asuh orang tua yang salah, pada umumnya masih bias diperbaiki oleh orang tua itu sendiri, tetapi situasi pergaulan dengan teman-teman sebaya cenderung sulit di perbaiki (Sunarto : 1998).
Hubungan sosial ini sangat penting peranannya. Dalam hubungan sosial akan terdapat adanya rasa aman atau tidak aman. Rasa aman inilah yang menjadi dambaan seseorang dalam hubungan sosial. Mengapa rasa aman ditekankan di sini, karena rasa aman inilah yang dapat menjadikan orang merasa bahagia. Rasa aman ini akan didapat seseorang bila hubungan sosialnya memuaskan.
Keberhasilan sesorang di dalam hidupnya semata-mata tidak ditentukan oleh kepandaian otaknya saja. Masih ada faktor lain yang penting, yaitu pergaulan sosial. Bagaimana seseorang itu bergaul dengan lingkungannya akan memberikan pengaruh terhadap keberhasilan seseorang dalam hidupnya. Kita lihat contoh disekeliling kita, ada orang yang pandai tetapi sangat sulit untuk bergaul, dan ada orang yang kurang pandai tetapi sangat mudah bergaul, yang berarti hubungan sosialnya baik. Sehingga dapat dikatakan orang yang mudah bergaul itulah yang dapat merasakan kebahagiaan.
          Dengan alasan di atas tadi jelaslah bahwa setiap orang ingin mengusahakan hubungan sosial yang baik, yang memuaskan untuk dapat sukses dalam usahanya mencapai ketenangan batin. Dalam hubungan sosial, ada kiat-kiat yang dapat membantu kita agar hubungan sosial berjalan dengan baik. Yang dimaksud di sini, adalah suatu pengertian, dari kita terhadap orang lain. Dalam psikologi, dikenal istilah individual differences, maksudnya adalah adanya perbedaan individual. Individu tidaklah sama, masing-masing mempunyai ciri-ciri berbeda. Oleh sebab itu tidak semua orang mempunyai sifat dan sikap hubungan sosial yang sama.

3.      Masalah dalam organisasi formal,
Konflik organisasional timbul karena beberapa sumbernya, dan berbagai sumber utama konflik tersebut dapat diuraikan sebagai berikut:
a.       Kebutuhan untuk membagi sumber daya- sumber daya yang terbatas,
b.      Perbedaan-perbedaan dalam berbagai tujuan,
c.       Saling ketergantungan kegiatan-kegiatan kerja,
d.      Perbedaan nilai-nilai atau persepsi,
e.       Gaya-gaya individual.

Individu-individu dalam organisasi mempunyai banyak tekanan pengoperasian organisasional yang menyebabkan konflik, secara lebih konseptual literal mengemukakan empat penyebab konflik organisasional, yaitu:
a.       Suatu situasi di mana tujuan-tujuan tidak sesuai,
b.      Keberadaan peralatan-peralatan yang tidak cocok atau alokasi-alokasi sumber daya yang tidak sesuai,
c.       Suatu masalah ketidaktepatan status,
d.      Perbedaan persepsi.

Dalam suatu organisasi terdapat empat bidang struktural, dan di bidang itulah konflik sering terjadi, yaitu:
a.       Konflik hirarkis, adalah konflik antar berbagai tingkatan organisasi,
b.      Konflik fungsional, adalah konflik antara berbagai departemen fungsional organisasi,
c.       Konflik lini-staf, adalah konflik antara lini dan staf,
d.      Konflik formal informal, adalah konflik antara organisasi formal dan organisasi informal.

4.      Kesulitan dalam penampilan peranan,
Yaitu masalah-masalah yang berkaitan dengan tidak terlaksananya peranan-peranan dalam kehidupan personal dan sosial dari individu yang dikarenakan adanya hambatan-hambatan yang menyebabkan kesulitan dalam menampilkan peranan-peranan individu yang seharusnya.

5.      Masalah keputusan,
Yaitu masalah-masalah yang berkaitan dengan adanya kebingungan-kebingungan atau kebimbangan-kebimbangan seseorang dalam pengambilan suatu keputusan. Di dalam pengambilan keputusan seorang konselor harus bisa mengatasi masalah-masalah dengan cara memegang teguh prinsip-prinsip etika dan nilai yang ada dalam masyarakat untuk menjadi pegangan dalam pengambilan keputusan.

6.      Stress emosional reaktif,
Stres emosi yang reaktif adalah suatu perasaan atau kondisi yang ditujukan kepada orang lain secara tiba-tiba timbul atau muncul.

7.      Sumber daya yang tidak memadai.
Sumber daya yang tidak memadai misalnya dari sumber daya manusia, sumber daya alam, sumber daya teknologi dan lain-lainsehingga menimbulkan masalah bagi kehidupan klien.

F.     Tugas-Tugas Pekerja Sosial dengan Klien dalam Pendekatan Berpusat pada Tugas

Dalam prakteknya, pendekatan berpusat pada tugas tidak menggunakan assesmen, seperti teori psikodinamika untuk mempelajari respon dari emosi klien, tetapi untuk mengidentifikasikan syarat/keperluan dalam tindakan, rintangan dalam tindakan dan desakan yang tak berubah.
Adapun tugas-tugas antara pekerja sosial dengan klien dalam pendekatan berpusat pada tugas antara lain :
1.      Assesment
Di dalam asessment, tugas pekerja sosial bersama klien adalah menganalisis masalah klien  juga merumuskan masalah tersebut, identifikasi masalah potensial, kesepakatan sementara terhadap masalah, menantang mendifinisikan masalah yang tidak diinginkan/terpecahkan, mendapat detail masalah, identifikasi baseline, memutuskan perubahan yang diinginkan.

2.      Membuat kontrak
Kontrak atau perjanjian adalah kesepakatan antara dua orang atau lebih mengenai hal tertentu yang disetujui oleh mereka. Membuat kontrak berarti setuju untuk bekerja pada masalah yang dipilih, membuat prioritas masalah, menentukan hasil yang diinginkan dari intervensi, merancang seperangkat tugas, sepakat sejumlah kontak dan batas waktu, kontak.
Selain itu di dalam kontrak pekerja sosial dengan klien menentukan pihak-pihak mana saja yang akan terlibat selama proses pemecahan masalah. Juga kesepakatan mengenai biaya atas jasa yang diberikan pekerja sosial.
 
3.       Merencanakan tugas-tugas pemecahan masalah
Perencanaan adalah proses perumusan kegiatan atau tugas-tugas yang akan dilakukan pekerja sosial dengan klien dalam mencapai pemecahan masalah klien.
Pekerja sosial bersama klien dalam merencanakan tugas-tugas pemecahan masalah harus didasarkan pada asesmen agar tidak terjadi kekeliruan dalam pemecahan masalah tersebut.

4.      Menentukan reward dan tujuan
Pekerja sosial menentukan insentif (pendorong atau perangsang) agar klien mempunyai motivasi untuk melakukan perubahan dengan memberikan reward. Selain itu pekerja sosial perlu menjelaskan tujuan  pemecahan masalah dan  manfaat apa yang akan diterima oleh klien jika masalah yang dialami klien tersebut terpecahkan.

5.      Mengatasi hambatan
Perlu diketahui perbedaan antara masalah dan hambatan. Masalah  merupakan kesulitan-kesulitan yang telah disepakati dari awal oleh pekerja sosial dan klien, sedangkan hambatan merupakan kesulitan-kesulitan yang muncul selama proses pemecahan masalah. Hambatan ini perlu diatasi untuk memperlancar proses pemecahan masalah dan harus cepat tertangani agar tidak menimbulkan masalah baru.

6.      Simulasi dan bimbingan praktis
      Dalam pendekatan berpusat pada tugas (task centred approach), pekerja sosial perlu memberikan simulasi atau pelatihan-pelatihan serta bimbingan praktis berkaitan dengan tugas-tugas yang akan dilakukan klien dalam proses pemecahan masalahnya. Misalnya klien yang akan melamar pekerjaan dan harus melakukan interview atau wawancara sedangkan ia sendiri mengalami kesulitan dalam berkomunikasi ataupun kurang percaya diri, maka klien tersebut dapat melakukan simulasi atau latihan dengan pekerja sosial terlebih dahulu. Pekerja sosial juga memberikan bimbingan-bimbingan berkaitan dengan hal tersebut.

7.      Kajian tugas-tugas pemecahan masalah (evaluasi)
Dalam hal ini, pekerja sosial perlu mengevaluasi dan melihat perkembangan dari klien apakah tugas pemecahan masalah tersebut sudah berjalan efektif dan dapat mencapai sasaran atau tidak.

8.      Analisis kontekstual
Yaitu menentukan faktor-faktor yang mendukung dan menghambat dalam tugas-tugas pemecahan masalah serta bagaimana mengatasinya.

9.      Terminasi
Terminasi adalah suatu proses pengakhiran kerjasama di antara pekerja sosial dengan klien (berakhirnya kontrak kerja).
Dalam terminasi, pekerja sosial perlu menunjukan kemajuan-kemjuan yang dialami oleh klien baik kemampuan klien itu sendiri maupun hasil pencapaian tujuan. Selain itu pekerja sosial harus memberikan dukungan (membesarkan hati klien) dan meyakinkan klien bahwa dia seseorang yang kuat, mandiri dan memiliki kemampuan untuk memcahkan masalah sendiri. Selain itu, pekerja sosial perlu menjelaskan bahwa proses terminasi tersebut bukan berarti putusnya komunikasi atau hubungan silahturahmi di antara pekerja sosial dengan klien melainkan sebatas pemutusan proses pertolongan.
    
G.    Teknik Konseling dalam Pendekatan Berpusat pada Tugas / Klien

Penekanan masalah ini adalah dalam hal filosofis dan sikap konselor ketimbang teknik. Dan mengutamakan hubungan konseling ketimbang perkataan dan perbuatan konselor.
Implementasi teknik konseling didasari atas faham filsafat serta sikap konselor. Karena itu penggunaan teknik seperti pertanyaan dorongan, interpretasi, dan sugesti dipakai dalam frekuensi yang rendah. Yang lebih utama ialah pemakaian teknik konseling bervariasi dengan tujuan pelaksanaan filosofi dan sikap tadi. Karena itu teknik konseling Rogers berkisar antara lain pada cara-cara penerimaan pernyataan dan komunikasi, menghargai orang lain, dan memahami klien.
Karena itu dalam pelaksanaan teknik konseling amat diutamakan sifat-sifat konselor berikut :
1.      Acceptance artinya konselor menerima klien sebagaimana adanya dengan segala masalahnya. Jadi sikap konselor adalah menerima secara netral.
2.      Congruence artinya karakteristik konselor adalah terpadu, sesuai kata dengan perbuatan,  dan konsisten.
3.      Understanding artinya konselor harus dapat secaraakurat dan memahami secara empati dunia klien sebagaimana dilihat dari dalamdiri klien itu.
4.      Nonjudgmental artinya tidak memberi penilaian terhadap klien, akan tetapi konselor selalu objektf.











KESIMPULAN

Pendekatan berpusat pada tugas (Task Centred Approach) difokuskan dalam menetapkan kategori-kategori dari masalah yang ada. Pendekatan ini mencoba untuk memperbaiki kekuatan-kekuatan dalam masyarakat guna menghadapi masalah yang dimaksud.
Tujuan utama pendekatan berpusat pada tugas ini adalah untuk membimbing atau melatih klien dalam menjalankan tugas-tugas kehidupannya.
Corak dari pendekatan berpusat pada tugas dalam konseling berpijak pada beberapa keyakinan dasar tentang martabat manusia dan hakikat kehidupan manusia. Keyakinan-keyakinan itu untuk sebagian bersifat falsafah dan untuk sebagian bersifat psikologis
Dalam konseling, pendekatan berpusat pada tugas memiliki kaitan dengan masalah yang :
1.      Klien ketahui atau terima,
2.      Dapat dipecahkan melalui tindakan bersama pekerja sosial,
3.      Dapat didefinisikan dengan jelas,
4.      Berasal dari sesuatu yang klien ingin perubahan dalam kehidupannya,
5.      Berasal dari klien yang keinginannya tidak terpuaskan bukan dari luar.
Adapun masalah yang dihadapi dalam pendekatan berpusat pada tugas, diantaranya:
1.      Konflik interpersonal,
2.      Relasi sosial yang tidak puas,
3.      Masalah dalam organisasi formal,
4.      Kesulitan dalam penampilan peranan,
5.      Masalah keputusan,
6.      Stress emosional reaktif,
7.      Sumber daya yang tidak memadai.


Adapun tugas-tugas antara pekerja sosial dengan klien dalam pendekatan berpusat pada tugas antara lain :
1.      Assesment
2.      Membuat kontrak
3.      Merencanakan tugas-tugas pemecahan masalah
4.      Menentukan reward dan tujuan
5.      Mengatasi hambatan
6.      Simulasi dan bimbingan praktis
7.      Kajian tugas-tugas pemecahan masalah (evaluasi)
8.      Analisis kontekstual
9.      Terminasi
Implementasi teknik konseling didasari atas faham filsafat serta sikap konselor. Karena itu penggunaan teknik seperti pertanyaan dorongan, interpretasi, dan sugesti dipakai dalam frekuensi yang rendah. Yang lebih utama ialah pemakaian teknik konseling bervariasi dengan tujuan pelaksanaan filosofi dan sikap tadi. Karena itu teknik konseling Rogers berkisar antara lain pada cara-cara penerimaan pernyataan dan komunikasi, menghargai orang lain, dan memahami klien.














DAFTAR PUSTAKA

Paine, Malcolm. 2006. Modern Social Work Theory. Bandung: Blue Campus Dago Tiga Enam Tujuh.
Willis, Sofyan S. 2004. Konseling Individual: Teori dan Praktek. Bandung: Alfabeta
Winkell,W.S. dan Sri Hastuti. 2004. Bimbingan dan Konseling di Institusi Pendidikan. Yogyakarta: Media Abadi
http://blogs.unpad.ac.id/teguhaditya diunduh pada tanggal 22 Maret 2012 pukul 09.01
http://www.g-excess.com/3377/makalah-dan-pengertian-hubungan-sosial/ diunduh pada tanggal 22 Maret 2012 pukul 09.03
http://tiang-awan.tripod.com/art2-hubsos.htm diunduh pada tanggal 22 Maret 2012 pukul 09.01 diunduh pada tanggal 22 Maret 2012 pukul 09.06
(http://id.wikipedia.org/wiki/Kontrak) diunduh pada tanggal 22 Maret 2012 pukul 09.09
(http://id.wikipedia.org/wiki/Perencanaan) diunduh pada tanggal 22 Maret 2012 pukul 09.10
http://id.shvoong.com/social-sciences/education/2134162-tujuan-konseling-berpusat-pada-person/#ixzz1qCZat8Si diunduh pada tanggal 22 Maret 2012 pukul 09.12








LAMPIRAN

HASIL DISKUSI
Moderator       : FinandaBuheli           10.04.204
Notulen           : Zulkiah Patamani      10.04.202

SESI 1 :
1.      Dani Yulizar                                  10.04.027
Jelaskan point perpoint pada pendekatanberpusat pada tugas, dalam mengatasi hambatan atau masalah dalam pendekatan berpusat pada tugas (Jelaskan dalam konflik Interpersonal) ?
Dijawab : Evie afrianty, tambahan Nadhia Soraya A.

2.      Moh. Rezky Oka                           10.04.246
Mengapa proses pertolongan pada pendekatan berpusat pada tugas dilkukan dahulu identifikasi lalu melakukan kontrak ?
Dijawab : Rita Tejaprianti, tambahan Wisnu Wijayanto dan Evie Afrianty.

3.      Septi Ayu Saputri                         10.04.204
Dalam proses pendekatan yang berpusat pada tugas, jelaskan maksud dari tugas alternatif ?
Dijawab : Evie Afrianty.









            SESI 2 :
1.      Ega Diva Erturin                           10.04.071
Bagaimanaterjadi konflik interpersonal pada proses dan klien (cara mengatasinya) ?
Dijawab : Wisnu Wijayanto

2.      Firman Maulana                            10.04.016
Sebutkan kelebihan, kekurangan dan manfaat pada pendekatan yang berpusat pada tugas ?

Dijawab : Rita Tejaprianti, tambahan Nadhia Soraya A, Evie Afrianty

3.      Yulliani                                         10.04.300
Pada spesifikasi masalah tidak terdapat asesmen padahal asesmen  sangat diperlukan. Bagaimana dalam pendekatan berpusat pada tugas dalam melakukan perencanaan tugas sementara asesmen tidak ada ?
Dijawab : Nadhia Soraya A, tambahan Evie Afrianty