PEKERJAAN SOSIAL INDUSTRI
A. Definisi Pekerjaan Sosial
Industri
Pekerjaan sosial industri dapat
didefinisikan sebagai lapangan praktik pekerjaan sosial yang secara khusus
menangani kebutuhan-kebutuhan kemanusiaan dan sosial di dunia kerja melalui
berbagai intervensi dan penerapan metoda pertolongan yang bertujuan untuk
memelihara adaptasi optimal antara individu dan lingkungannya,terutama dalam lingkungan pekerjaan. Kegiatan pekerjaan sosial industri antara
lain adalah :
1. program bantuan (bagi pegawai),
2. promosi keshatan
3. manajemen perawatan kesehatan,
4. tindakan alternatif affirmatif
(pembelaan),
5. penitipan anak,
6. perawatan lanjut usia,
7. pengembangan sumber daya manusia (SDM),
8. pengembangan organisasi, pelatihan, dan pengembangan karir, konseling bagi penganggur atau yang terkena pemutusan hubungan
kerja (PHK),
9. tanggung jawab sosial perusahaan (corporate
social responbility),
10. tunjangan-tunjangan pegawai,
11. keamanan dan keselamatan kerja,
12. pengembangan jabatan,
13. perencanaan sebelum dan sesudah pensiun
serta bantuan pemindahan kerja.
Pekerjaan sosial industri menggunakan
pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai pekerjaan sosial dalam pemberian
pelayanan , program, dan kebijakan bagi para pegawai dan keluarganya, manajemen
perusahaan, serikat-serikat buruh dan bahkan masyarakat yang berada di sekitar
perusahaan. Inti pekerjaan
sosial industri meliputi kebijakan, perencanaan, dan pelayanan sosial pada
persinggungan antara pekerja sosial dan dunia kerja. (Suharto 2006b).
Pekerjaan
sosial industri mencangkup pelayanan sosial yang bersifat internal dan
eksternal, pekerjaan sosial industri melibatkan program-program bantuan bagi
pegawai, seperti pelayanan konseling. Terapi kelompok, dan pengembangan sumber
daya manusia. Secara eksternal, pekerjaan sosial industri, berwujud dalam
berbagai bentuk program CSR termasuk di dalamnya strategi dan program pengembangan
masyarakat, pengembangan kebijakan sosial, dan advokasi sosial.
Hubungan
antara PSI, CSR, dan ComDev
|
![]() |

B.
Sejarah dan Perkembangan Pekerjaan Sosial
Industri
Pekerjaan
sosial industri terlahir dalam konteks pertumbuhan masyarakat industri.
Pekerjaan sosial industri pertama kali muncul tahun 1800-an. Para pekerja
sosial mulai terlibat di berbagai perusahaan Inggris, Jerman, dan Amerika
Serikat sekitar tahun 1890, sedangkan di Perancis tahun 1920. Pada masa itu,
beberapa perusahaan di sana menyewa apa yang disebut ” sekretaris
kesejahteraan”,”pekerja kesejahteraan industri” , atau ”sekretaris sosial”. Di
Jerman, pekerja sosial atau sosiater industri ini dikenal dengan nama arbeiter sozial, sedangkan di Perancis
dinamakan consul de familie atau conseillers
du travail (Suharto, 2006ab).
Pekerja
sosial memiliki peranan penting dalam pemberian pelayann sosial, baik yang
bersifat pencegahan, penyembuhan maupun pengembangan dalam sebuah perusahaan.
Tugas utamanya adalah menangani masalah kesejahteraan, kesehatan, keselamatan
kerja, relaxi buruh dan majikan, serta perencanaan dan pengorganisasian
program-program pengembangan masyarakat bagi komunitas yang ada di sekitar
perusahaan (Suharto, 1997;2006b).
Karena tugas utamanya menangani permasalahan sosial yang terkait dengan
perusahaan, sosiawan industri ini dikenal pula dengan nama pekerja sosial
kepegawaian atau occupational social
worker (Strausser, 1989).
Menurut Freud, fokus pekerjaan sosial harus
menyentuh dunia kerja, karena ia memberi tempat aman bagi seseorang dalam
realitas sebuah komunitas manusia (human
community). Pada tahun 1975, seorang pioneer pekerjaan sosial, Bertha Reynolds memberi komentar atas
pendapat Freud yang dikemukakan pada
tahun 1930 itu. Menurut Reynolds, ”
tempat kerja yang merupakan sebuah persimpangan kehidupan (the crossroads of
life) sering kali diabaikan sebagai sebuah komunitas manusia”.
Pernyataan
Reynolds tidak lagi berlaku dewasa
ini. Sekarang ini kita telah
menyaksikan peningkatan yang luar biasa dalam hal perhatian dan kehadiran
profesi pekerjaan sosial di dunia kerja. Semenjak tahun 1970-an., pekerja
sosial telah menemukan bahwa tempat kerja bukanlah untuk bekerja saja, tetapi
merupakan sebuah tempat yang penting dan unik di mana para pegawainya perlu
diberi informasi mengenai pelayanan-pelayanan yang tidak selalu terkait dengan
pekerjaan. Tempat kerja juga
merupakan tempat dimana diagnosis aktual mengenai kebutuhan dan pelayanan
sosial tertentu dapat diberikan. (suharto,
2006b).
Industri
merupakan salah satu bidang garapan profesi pekerjaan sosial yang paling muda.
Namun, akar sejarah pekerjaan sosial industri di AS beranjak pada akhir abad
ke-18 dan semakin dikenal pada awal abad ke-19 saat di mana istilah ”kapitalisme
kesejahteraan” (welfare capitakism)
semakin populer dan saat ”sekretaris sosial” (social secretaries) dipekerjakan
di perusahaan. Kapitalisme kesejahteraan merujuk pada berbagai tunjangan dan
pelayanan sosial yang disediakan secara sukarela oleh majikan dalam upaya
mensosialisasikan, menjaga, dan mengontrol tenaga kerja kasar yang sangat
dibutuhkan pada masa revolusi industri (Suharto,
2006b).
Pemicu
lain yang menyebabkan lahirnya pekerjaan sosial industri di AS yaitu berkaitan
dengan upaya para majikan untuk mangatasi masalah yang diakibatkan oleh
meningkatnya wanita yang memasuki dunia kerja setelah perang sipil. Menurut
Brandes, permulaan pekerjaan sosial medis berakar pada suatu bentuk seksisme (sexism) akibat tumbuhnya bisnis dan
majikan mengalami peningkatan pegawai wanita. Para majikan menghadapi kesulitan
manangani masalah pegawai wanita yang ”ganjil” karena pada saat itu, fenomena
pekerja wanita masih sangat sedikit. Sebagai solusinya yaitu dengan menyewa
seorang spesialis. Spesialis yang pertama yaitu ibu Anggie Dunn yang disewa
pada tahun 1875 sebagai sekretaris sosial pada perusahaan H.J. Heinz di
Pittsburg ( Suharto, 2006b).
Perkembangan
pekerjaan sosial industri ini juga didorong dengan munculnya Pusat
Kesejahteraan Sosial Industri (the Industrial Social Welfare Center) yang
dibentuk tahun 1969 di sekolah pekerjaan sosial Columbia University di bawah
arahan Hyman J. Weiner dan didanai oleh pelayanan sosial dan rehabilitasi,
departemen Kesehatan, Departemen Pendidikan, dan Kesejahteraan AS. Lembaga ini
memiliki 3 tujuan yaitu:
a.
Membangun
bank pengetahuan dan informasi berkaitan dengan pemberian pelayanan sosial
terhadap populasi para pegawai.
b.
Menyediakan
bantuan teknis dan pelayanan konsultasi terhadap serikat buruh, perusahaan
bisnis, dan lembaga-lembaga sosial.
c.
Memberi
kontribusi pada pendidikan pekerja sosial dan profesi pertolongan lainnya
(CUSSW dalam Suharto, 2006). Lembaga tersebut sangat berhasil dalam mencapai
tujuan ini.
Pada
pertengahan tahun 1970-a, perkembangan pekerjaan sosial industri yang tadinya
secara terkotak-kotak (terserak) mulai mengkerucut melalui gerakan yang
terorganisir (Suharto 2006b).
Kemajuan ini berasal dario beberapa sebab, antara lain:
1.
Menurunkan
afiliasi para pekerja sosial profesional dengan sektor publik (semula sebagian
besar pekerja sosial di lembaga pemerintah);
2.
Semakin
banyaknya pekerja sosial yang membuka praktek mandiri (privat);
3.
Perubahan
angkatan kerja karena masuknya kaum wanita, minoritas, dan orang dengan
kecacatan (ODK) ke dunia industri;
4.
Disahkan sebagai peraturan
dengan perundang-undang yang terkait dengan pekerjaan, seperti the Hughes Act,
the Vocational Rehabilitation Act, The OCCUPATIONAL Safety and health Act, the
Employee Retirement Income Security ACT, the Age Discrimination in Employment Act,
dan Title VII of the Civil Rights Act;
5.
Meningkatnya kesadaran sosial
mengenai dampak tempat kerja terhadap kesehatan mental dan kecanduan alcohol di
kalangan pegawai.
Selain lima kondisi
di atas, semakin populernya pekerjaan sosial industri juga dipicu oleh
profesionalisme pada program-program penanggulangan alkoholisme di tempat
kerja, evolusi program-program bantuan bagi pegawai (Employee Asistance
Programs/EAPs), serta dibentuknya program-program pelatihan di sejumlah sekolah
pekerjaan sosial di seluruh AS dan Kanada yang ke;ak meningkatkan kesempatan
kerja dan tersedianya pekerja sosial yang terlatih untuk posisi-posisi baru.
C.
Pekerja Sosial dalam Pekerjaan Sosial Industri
1.
Bidang Garapan Pekerja sosial
Guna
mengenal lebih jauh fungsi dan peranan pekerjaan sosial, di bawah ini disajikan
beberapa contoh bidang garapan atau setting utama yang sering kali menjadi
tempat berkiprah para pekerja sosial yaitu antara lain:
a)
Keluarga
dan pelayanan anak: penguatan keluarga, konseling keluarga, pemeliharaan anak,
dan adopsi, perawatan harian, pencagahan penelantaran, dan kekerasan dalam
rumah tangga.
b)
Kesehatan
dan rehabilitasi: pendampingan pasien di rumah sakit, pengembangan kesehatan
masyarakat, kesehatan mental. Rehabilitasi vokational, rehabilitasi pecandu
obat dan alkohol, pendampingan ODHA, harm
reduction programmer.
c)
Pengembangan
masyarakat: perencanaan sosial, pengorganisasian masyarakat, revitalisasi
ketetanggaan, perawatan lingkungan hidup, kehutanan sosial, penguatan modal
sosial, penguatan ekonomi kecil.
d)
Jaminan
sosial: skema asuransi sosial, bantuan sosial, social fund, JKSM, jaringan pengaman sosial.
e)
Pelayanan
kedaruratan: pengorganisasian bantuan: manajemen krisis, informasi dan rujukan,
integrasi pengungsi, pengembangan peringatan dini masyarakat.
f)
Pekerjaan
sosial sekolah: konseling penyesuaian sekolah, manajemen perilaku pelajar,
manajemen tunjangan biaya pendidikan. Pengorganisasian makan siang murid,
peningkatan partisipasi keluarga dan masyarakat dalam pendidikan.
g)
Pekerjaan
sosial industri: program bantuan pegawai, penanganan stress, dan burnout,
penempatan dan relokasi kerja, perencanaan pensiun, tanggung jawab sosial
perusahaan (corporate social responbility).
2. Masalah yang ditangani Pekerja Sosial
Berawal
dari abad ke-14 di Inggris, masyarakat industri sangat ditentukan sistem
pebrik. Pada zaman merkantilisme ini, pada awalnya laki-laki dan wanita bekerja
di ladang atau pada perusahaan-perusahaan keluarga (informal) (Johnson,1984;
Kartono, 1994).Hal ini memisahkan orang dewasa yang sebagian besar waktunya
bekerja di pabrik dengan anak-anak yang ditinggalkan di rumah bersama keluarga
besar atau tanpa pengawasan sama sekali. Pemisahan ini menjadi awal bagi
dinamika keluarga dan masyarakat termasuk bagi munculnya permasalahan sosial
yang diakibatkannya. Retaknya relasi sosial antara pekerja dan keluarganya,
kurangnya kesempatan anak dalam meniru model peranan orangtua dan munculnya
alinasi atau keterasingan pekerja dalam kehidupan masyarakatnya adalah beberapa
contoh masalah sosial yang timbul akibat industrialisasi.
Mekanisme
dan otyomatisasi melahirkan rutinitas pekerjaan dan membuat tenaga manusia
tampak semakin tidak penting. Para pekerja kerah biru maupun kerah putih merasa
tidak bermakna dan terancam karena kapan saja dapat digantikan oleh saingannya,
yakni mesin. Perubahan teknologi, penggantian tenaga kerja (shift), dan
pemutusan hubungan kerja yang semakin menjadi fenomena dalam kehidupan
sehari-hari sering menimbulkan kecemasan bagi para pekerja. Proses otomatisasi
di As menggantikan sekitar 2 juta pekerjaan setiap tahunnya. Para pekerja yang merasa tidak berguna dan
tidak berdaya dalam pekerjaanya seringkali membawanya ke rumah dan masyarakat.
Johnson
(1948:261) mengklasifikasikan akibat akibat industrialisasi yang bersifat
negatif terhadap kesejahteraan manusia
ke dalam 5A yaitu:
a. Alienation: perasaan keterasingan dari
diri, keluarga, dan kelompok sosial yang menimbulkan apatis, marah, dan
kecemasan.
b. Alcoholism atau addiction: ketergantungan
terhadap alkohol, obat-obat terlarang atau rokok yang dapat menurunkan produktivitas,
meruasak kesehatan fisik dan psikis , dan kehidupan sosial seseorang.
c. Absenteeism: kemangkiran kerja atau
perilaku membolos kerja dikarenakan rendahnya motivasi pekerja,
perasaan-perasaan malas, tidak berguna, tidak merasa memiliki perusahaan, atau
sakit fisik dan psikis lainnya.
d. Accidents: kecelakaab kerja yang
diakibatkan oleh menurunnya konsentrasi pekerja atau oleh lemahnya sistem
keselamaatan dan kesehatan lingkungan kerja.
e. Abuse: bentuk-bentuk perlakuan salah
terhadap anak-anak atau pasangan dalam keluarga (istri/suami), seperti memukul.
Dan menghardik secara berlebihan yang ditimbulkan oleh frustasi, kebosanan,
kelelahan di tempat pekerjaannya.
Beberapa
permasalahan lainnya yang terkait dengan masalah industrialisasi adalah:
a. diskriminasi di tempat kerja atau
tindakan-tindakan tidak adil terhadap wanita, kaum minoritas, imigran, remaja,
pensiunan, dan para penyandang cacat.
b. polusi (udara, air,suara) dan
kerusakan-kerusakan fisik dan psikis para pekerjanya.
3. Tugas Pekerja Sosial Industri
Menurut
Johnson (1984:263-264) ada 3 bidang tugas pekerja sosial yang bekerja di
perusahaan antara lain:
a. Kebijakan, perencanaan dan administrasi.
Bidang ini
umumnya tidak melibatkan pelayanan sosial secara langsung. Sebagai contoh,
perumusan kebijakan untuk peningkatan karir, pengadministrasian program-program
tindakan afirmatif, pengkoordinasian program-program jaminan sosial dan bantuan
sosial bagi para pekerja , atau perencanaan kegiatan-kegiatan sosial dalam
departemen perusahaan.
b. Praktik langsung dengan individu,
keluarga, dan populasi khusus.
Tugas
pekerja sosial dalam bidang ini meliputi intervensi krisis (crisis
intervention), assesmen (penggalian) masalah-masalah personal, dan pelayanan
rujukan, pemberian konseling bagi para pensiunan atau pekerja yang menjelang
pensiun.
c. Praktik yang mengkombinasikan pelayanan
sosial langsung dan perumusan kebijakan sosial bagi perusahaan.
Para
pekerja sosial telah memberikan kontribusi penting dalam memanusiakan dunia
kerja. Mereka umumnya terlibat dalam konseling di dalam maupun di luar
perusahaan, pengorganisasianprogram-program personal, konsultasi dengan
manajemen dan serikat-serikat kerja mengenai konsekuensi kebijakan-kebijakan
perusahaan terhadap pekerja, serta bekerja dengan bagian kesehatan dan
kepegawaian untuk meningkatkan kondisi lingkungan kerja dan kualitas tenaga kerja
(Johnson,1994;Suharto,1997).
