Senin, 03 September 2012

cerita observasi sepatu roda di car free day bandung


PENGAMATAN ORANG YANG BERMAIN SEPATU RODA DI CAR FREE DAY DAGO
KOTA BANDUNG

Pukul                           : 07.00 – 09.00 WIB
Hari/Tanggal                : Minggu, 2 September 2012
Tempat                         : di Car Free Day Dago Bandung

Car Free Day  merupakan moment atau acara yang diadakan setiap hari minggu yang bertempat di Dago Bandung, khususnya yang diawali startnya dari lampu merah simpang sampai taman dago, kota bandung. Sepanjang  jalan itu, tidak boleh ada kendaraan yang melewatinya, karena namanya saja Car Free Day yang artinya hari bebas berkendara, jadi kendaraan-kendaraan berhenti sejenak, tidak boleh melewati jalan itu. waktu acara itu biasanya dari pukul setengah 6 sampai pukul 10 pagi. Jadi kendaraan-kendaraan boleh melewati jalan itu setelah pukul 10 pagi.
Dalam acara Car Free Day itu banyak bebagai macam orang yang berjualan, dari mulai penjualan minuman sampai makanan, lalu penjual pakaian bekas, pernak-pernik (aksesoris), penyewaan sepeda, bahkan orang yang berjualan itu banyak sekelompok mahasiswa dari berbagai universitas atau perguruan tinggi, yang bertujuan dari hasil penjualannya sebagian akan disumbangkan ke orang-orang yang membutuhkan yaitu seperti orang miskin, pengemis dan anak jalanan. Biasanya sekelompok mahasiswa itu menjual pakaian bekas, makanan kecil seperti donat, keripik dan stiker. Selain pedagang banyak juga pertunjukan-pertunjukan seperti group band lokal, kesenian sunda, dan tarian sunda yang di bawakan oleh anak-anak SD, selain itu juga ada senam bareng. Pertunjukan-pertujukan itu diadakan di depan toko-toko seperti toko kue Amanda, Factory Outlet, Distro- Distro dan masih banyak lagi. Acara Car Free Day itu banyak dimanfaatkan oleh setiap orang yang utama untuk olahraga pagi sambil jalan-jalan santai, refreshing untuk menghilangkan rasa jenuh dan kepenatan selama aktivitas dikantor selama seminggu seperti bapak ibu yang bekerja di kantoran dan anak-anak sekolah yang seminggu itu di bebani dengan aktivitas sekolah dan tugas-tugas, berkumpul dengan keluarga dengan duduk-duduk bareng di trotoar, anak-anak yang sedang bermain sepeda, bermain sepatu roda, dan bertemu dengan teman-teman sebaya. Dalam acara Car Free Day ini semua orang dapat mengikutinya, dari bayi sampai orang dewasa ada di acara ini. Ada juga orang yang membawa binatang peliharaannya di tempat ini. Dari cerita kami tentang gambaran car free day berikut merupakan foto-fotonya :
Seperti yang kami amati di sana adalah orang yang bermain sepatu roda. Salahsatu olahraga yang digemari anak-anak dan remaja adalah roller skate atau sepatu roda. Olahraga sepatu roda berasal dari Belanda. Pertama kali dicetuskan oleh seorang penggemar ice skating pada abad 17, yang menginginkan dapat meluncur di atas jalanan keras layaknya di atas es atau salju. Lantas ia berinisiatif memasang roda pada sepatunya.
Kebanyakan orang yang bermain sepatu roda di Car Free Day ini adalah anak-anak. Anak-anak tersebut seperti anak-anak kelas 4 SD sampai kelas 3 SMP yang berumur kira-kira 9-14 tahun. Waktu melakukan observasi kami sempat kesulitan, karena jarang ada orang yang  memakai sepatu roda kebayakan memakai skeatboat dan sepeda serta pada jogging dan rata-rata yang memakai sepatu roda ini adalah anak-anak yang bermain sepatu roda dan itupun hanya sedikit, tidak berkelompok. Paling yang saya lihat hanya 4 orang, itu juga sendiri-sendiri tidak berkelompok. Mereka dengan umur yang masih kecil sudah lincah bermain sepatu roda dengan membawa tas gendong yang ada dipunggungnya, mungkin isi dari tas itu adalah makanan dan minuman, yang sewaktu-waktu apabila mereka lapar bisa untuk di makan, karena walaupun menggunakan sepatu roda pasti menguras keringat karena kakinya yang menahan dengan kuat dan harus mempunyai keseimbangan antara badan dan kakinya.
Mereka pun bermain sepatu roda dengan sangat gembira sekali dan keliatan bersemangat sekali sampai ada yang terjatuh karena baru latihan menggunakan sepatu roda tetapi walaupun terjatuh merekan tidak merasakan kesakitan tetapi malah tertawa dan bangun kembali dengan penuh semangat untuk bermain lagi bersama temannya. Anak-anak tersebut bermain sepatu roda dari start lampu merah simpang dago sampai taman dago dengan gaya yang berbeda-beda, ada yang tangan kanannya di depan lalu tangan kirinya di belakang, seperti superman yang akan terbang begitu juga sebaliknya, atau ada juga yang berdiri tegak, dan ada juga yang anak kecil kira-kira berumur 9 tahun jatuh karena tidak bisa menyeimbangi. Jadi gaya anak-anak yang bermain sepatu roda berbeda-beda menurut keahliannya masing-masing.
Lalu kami mengamati lagi sepertinya mereka sudah lelah, tetapi dengan gigihnya, mereka terus-menerus mencoba untuk bermain sepatu roda tersebut.
Selain itu, ada laki-laki dewasa yang berumur sekiitar 20 tahun sedang memakai sepatu roda dengan gaya-gaya yang sudah profesional. Mungkin laki-laki dewasa tersebut belajar sejak dia remaja sehingga terlihat sekali profesional saat dia sudah dewasa.
Kemudian tak lama kemudian dia pergi lalu saat di depan RS.Borromeus dia menghentikan kayuhan kakinya dan duduk di tengah-tengah lalu duduk sambil melurskan kakinya dan mengangkat telepon. Tidak begiu lama, laki-laki tersebut ke arah taman dago dan kemudian dia pulang dengan menggunakan motor dan sebelum ia pulang, di dalam bagasi motor nya ada sepatu biasa jadi saat dia pulang dia tidak menggunkan sepatu roda itu lagi.
Kemudian kami sempat bertanya, “kalau misalnya pulangnya memakai sepatu roda gimana ya saat dia melawan arah, menyebrang.” Karena difikiran kami permainan sepatu roda itu berbahaya. Seperti pengamatan yang kami lihat, jika dalam acara car free day tersebut, apabila ada jalan yang berlubang, anak-anak atau remaja masih mampu mensiasatinya karena mereka bisa mensiasati apabila ada jalan yang berlubang yaitu dengan gaya yang meloncat atau masalah-masalah lain karena dalam acara tersebut tidak ada mobil/motor yang memiliki resiko kecelakaan tinggi.
Dan menurut kami pemakai sepatu roda bagi anak-anak harus diperhatikan lebih sensitif dari para orangtua karena apabila tidak anak itu akan mengalami kecelakaan yang tidak diinginkan. Selain itu, untuk orang remaja atau dewasa, tetap perlu meningkatkan kewaspadaan diri terutama apabila pulang ke rumah menggunakan sepatu roda. Meskipun sudah mahir tetapi sebaiknya mengurangi kemungkinan yang harus dihindari karena pemakai sepatu roda itu bukan satu-satunya di jalan raya.
Bagi kami, pemain sepatu roda itu dilakukan bagi yang sudah ahli dalam permainan itu. Kebanyakan dari mereka yang pemula pemain sepatu roda maupun yang sudah ahli tidak sedikit dari mereka mempertunjukan atraksinya agar orang melihatnya, setelah itu berhenti sejenak dan meluruskan kaki-kakinya agar tidak kaku. Lalu setelah beberapa menit seperti kira-kira sekitar 15 menit, mereka berdiri lagi untuk bermain sepatu roda lagi ke arah start lagi yaitu sampai di depan lampu merah simpang, akhirnya selesai sampai di lampu merah simpang.
Sesudah melakukan observasi kami dan teman-teman lain menikmati suasana dan jalan-jalan di care free day, kami sangat senang bercanda danmelihat suasana keramaian di minggu yang biasanya sebagian orang bermalasan di hari minggu, tetapi dari adanya acara setiap hari minggu mengenai bebas berkendara dan sekaligus selingan agar mengajak setiap orang memiliki kendaraan ramah lingkungan itu sangat baik dan bagus manfaatnya.
Tidak terasa sedang jalan-jalan ternyata udah siang dan sudah mulai panas  dan kamipun  pulang, tetapi walaupun dengan perasaan capek saya dan teman-teman merasa gembira dan senang, karena selain buat obervasi saya bisa berkumpul serta jalan-jalan bersama teman teman dan menjadikan hari liburan yang sangat menyenangkan dan menggembirakan sekali sebelum keesokan harinya memulai aktivitas berkuliah kembali.

Jumat, 15 Juni 2012

praktek pekerjaan sosial bidang industri


PEKERJAAN SOSIAL INDUSTRI

A.    Definisi Pekerjaan Sosial Industri

Pekerjaan sosial industri dapat didefinisikan sebagai lapangan praktik pekerjaan sosial yang secara khusus menangani kebutuhan-kebutuhan kemanusiaan dan sosial di dunia kerja melalui berbagai intervensi dan penerapan metoda pertolongan yang bertujuan untuk memelihara adaptasi optimal antara individu dan lingkungannya,terutama dalam lingkungan pekerjaan. Kegiatan pekerjaan sosial industri antara lain adalah :
1.      program bantuan (bagi pegawai),
2.      promosi keshatan
3.      manajemen perawatan kesehatan,
4.      tindakan alternatif affirmatif (pembelaan),
5.      penitipan anak,
6.      perawatan lanjut usia,
7.      pengembangan sumber daya manusia (SDM),
8.      pengembangan organisasi, pelatihan, dan pengembangan karir, konseling bagi penganggur atau yang terkena pemutusan hubungan kerja (PHK),
9.      tanggung jawab sosial perusahaan (corporate social responbility),
10.  tunjangan-tunjangan pegawai,
11.  keamanan dan keselamatan kerja,
12.  pengembangan jabatan,
13.  perencanaan sebelum dan sesudah pensiun serta bantuan pemindahan kerja.

Pekerjaan sosial industri menggunakan pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai pekerjaan sosial dalam pemberian pelayanan , program, dan kebijakan bagi para pegawai dan keluarganya, manajemen perusahaan, serikat-serikat buruh dan bahkan masyarakat yang berada di sekitar perusahaan. Inti pekerjaan sosial industri meliputi kebijakan, perencanaan, dan pelayanan sosial pada persinggungan antara pekerja sosial dan dunia kerja. (Suharto 2006b).

Pekerjaan sosial industri mencangkup pelayanan sosial yang bersifat internal dan eksternal, pekerjaan sosial industri melibatkan program-program bantuan bagi pegawai, seperti pelayanan konseling. Terapi kelompok, dan pengembangan sumber daya manusia. Secara eksternal, pekerjaan sosial industri, berwujud dalam berbagai bentuk program CSR termasuk di dalamnya strategi dan program pengembangan masyarakat, pengembangan kebijakan sosial, dan advokasi sosial.
Hubungan antara PSI, CSR, dan ComDev


Pelayanan sosial internal :
Terapi individu, terapi kelompok, pengembangan sumber daya manusia
 
 
                       
                                                                                    


Oval: PSI
 

B.     Sejarah dan Perkembangan Pekerjaan Sosial Industri

Pekerjaan sosial industri terlahir dalam konteks pertumbuhan masyarakat industri. Pekerjaan sosial industri pertama kali muncul tahun 1800-an. Para pekerja sosial mulai terlibat di berbagai perusahaan Inggris, Jerman, dan Amerika Serikat sekitar tahun 1890, sedangkan di Perancis tahun 1920. Pada masa itu, beberapa perusahaan di sana menyewa apa yang disebut ” sekretaris kesejahteraan”,”pekerja kesejahteraan industri” , atau ”sekretaris sosial”. Di Jerman, pekerja sosial atau sosiater industri ini dikenal dengan nama arbeiter sozial, sedangkan di Perancis dinamakan consul de familie atau conseillers du travail (Suharto, 2006ab).

Pekerja sosial memiliki peranan penting dalam pemberian pelayann sosial, baik yang bersifat pencegahan, penyembuhan maupun pengembangan dalam sebuah perusahaan. Tugas utamanya adalah menangani masalah kesejahteraan, kesehatan, keselamatan kerja, relaxi buruh dan majikan, serta perencanaan dan pengorganisasian program-program pengembangan masyarakat bagi komunitas yang ada di sekitar perusahaan (Suharto, 1997;2006b). Karena tugas utamanya menangani permasalahan sosial yang terkait dengan perusahaan, sosiawan industri ini dikenal pula dengan nama pekerja sosial kepegawaian atau occupational social worker (Strausser, 1989).

Menurut Freud, fokus pekerjaan sosial harus menyentuh dunia kerja, karena ia memberi tempat aman bagi seseorang dalam realitas sebuah komunitas manusia (human community). Pada tahun 1975, seorang pioneer pekerjaan sosial, Bertha Reynolds memberi komentar atas pendapat Freud yang dikemukakan pada tahun 1930 itu. Menurut Reynolds, ” tempat kerja yang merupakan sebuah persimpangan kehidupan (the crossroads of life) sering kali diabaikan sebagai sebuah komunitas manusia”.

Pernyataan Reynolds tidak lagi berlaku dewasa ini. Sekarang ini kita telah menyaksikan peningkatan yang luar biasa dalam hal perhatian dan kehadiran profesi pekerjaan sosial di dunia kerja. Semenjak tahun 1970-an., pekerja sosial telah menemukan bahwa tempat kerja bukanlah untuk bekerja saja, tetapi merupakan sebuah tempat yang penting dan unik di mana para pegawainya perlu diberi informasi mengenai pelayanan-pelayanan yang tidak selalu terkait dengan pekerjaan. Tempat kerja juga merupakan tempat dimana diagnosis aktual mengenai kebutuhan dan pelayanan sosial tertentu dapat diberikan. (suharto, 2006b).

Industri merupakan salah satu bidang garapan profesi pekerjaan sosial yang paling muda. Namun, akar sejarah pekerjaan sosial industri di AS beranjak pada akhir abad ke-18 dan semakin dikenal pada awal abad ke-19 saat di mana istilah ”kapitalisme kesejahteraan” (welfare capitakism) semakin populer dan saat ”sekretaris sosial” (social secretaries) dipekerjakan di perusahaan. Kapitalisme kesejahteraan merujuk pada berbagai tunjangan dan pelayanan sosial yang disediakan secara sukarela oleh majikan dalam upaya mensosialisasikan, menjaga, dan mengontrol tenaga kerja kasar yang sangat dibutuhkan pada masa revolusi industri (Suharto, 2006b).

Pemicu lain yang menyebabkan lahirnya pekerjaan sosial industri di AS yaitu berkaitan dengan upaya para majikan untuk mangatasi masalah yang diakibatkan oleh meningkatnya wanita yang memasuki dunia kerja setelah perang sipil. Menurut Brandes, permulaan pekerjaan sosial medis berakar pada suatu bentuk seksisme (sexism) akibat tumbuhnya bisnis dan majikan mengalami peningkatan pegawai wanita. Para majikan menghadapi kesulitan manangani masalah pegawai wanita yang ”ganjil” karena pada saat itu, fenomena pekerja wanita masih sangat sedikit. Sebagai solusinya yaitu dengan menyewa seorang spesialis. Spesialis yang pertama yaitu ibu Anggie Dunn yang disewa pada tahun 1875 sebagai sekretaris sosial pada perusahaan H.J. Heinz di Pittsburg ( Suharto, 2006b).

Perkembangan pekerjaan sosial industri ini juga didorong dengan munculnya Pusat Kesejahteraan Sosial Industri (the Industrial Social Welfare Center) yang dibentuk tahun 1969 di sekolah pekerjaan sosial Columbia University di bawah arahan Hyman J. Weiner dan didanai oleh pelayanan sosial dan rehabilitasi, departemen Kesehatan, Departemen Pendidikan, dan Kesejahteraan AS. Lembaga ini memiliki 3 tujuan yaitu:
a.                Membangun bank pengetahuan dan informasi berkaitan dengan pemberian pelayanan sosial terhadap populasi para pegawai.
b.                Menyediakan bantuan teknis dan pelayanan konsultasi terhadap serikat buruh, perusahaan bisnis, dan lembaga-lembaga sosial.
c.                Memberi kontribusi pada pendidikan pekerja sosial dan profesi pertolongan lainnya (CUSSW dalam Suharto, 2006). Lembaga tersebut sangat berhasil dalam mencapai tujuan ini.

Pada pertengahan tahun 1970-a, perkembangan pekerjaan sosial industri yang tadinya secara terkotak-kotak (terserak) mulai mengkerucut melalui gerakan yang terorganisir (Suharto 2006b). Kemajuan ini berasal dario beberapa sebab, antara lain:
1.                 Menurunkan afiliasi para pekerja sosial profesional dengan sektor publik (semula sebagian besar pekerja sosial di lembaga pemerintah);
2.                 Semakin banyaknya pekerja sosial yang membuka praktek mandiri (privat);
3.                 Perubahan angkatan kerja karena masuknya kaum wanita, minoritas, dan orang dengan kecacatan (ODK) ke dunia industri;
4.                 Disahkan sebagai peraturan dengan perundang-undang yang terkait dengan pekerjaan, seperti the Hughes Act, the Vocational Rehabilitation Act, The OCCUPATIONAL Safety and health Act, the Employee Retirement Income Security ACT, the Age Discrimination in Employment Act, dan Title VII of the Civil Rights Act;
5.                 Meningkatnya kesadaran sosial mengenai dampak tempat kerja terhadap kesehatan mental dan kecanduan alcohol di kalangan pegawai.
Selain lima kondisi di atas, semakin populernya pekerjaan sosial industri juga dipicu oleh profesionalisme pada program-program penanggulangan alkoholisme di tempat kerja, evolusi program-program bantuan bagi pegawai (Employee Asistance Programs/EAPs), serta dibentuknya program-program pelatihan di sejumlah sekolah pekerjaan sosial di seluruh AS dan Kanada yang ke;ak meningkatkan kesempatan kerja dan tersedianya pekerja sosial yang terlatih untuk posisi-posisi baru.

C.    Pekerja Sosial dalam Pekerjaan Sosial Industri

1.    Bidang Garapan Pekerja sosial
Guna mengenal lebih jauh fungsi dan peranan pekerjaan sosial, di bawah ini disajikan beberapa contoh bidang garapan atau setting utama yang sering kali menjadi tempat berkiprah para pekerja sosial yaitu antara lain:
a)         Keluarga dan pelayanan anak: penguatan keluarga, konseling keluarga, pemeliharaan anak, dan adopsi, perawatan harian, pencagahan penelantaran, dan kekerasan dalam rumah tangga.
b)        Kesehatan dan rehabilitasi: pendampingan pasien di rumah sakit, pengembangan kesehatan masyarakat, kesehatan mental. Rehabilitasi vokational, rehabilitasi pecandu obat dan alkohol, pendampingan ODHA, harm reduction programmer.
c)         Pengembangan masyarakat: perencanaan sosial, pengorganisasian masyarakat, revitalisasi ketetanggaan, perawatan lingkungan hidup, kehutanan sosial, penguatan modal sosial, penguatan ekonomi kecil.
d)        Jaminan sosial: skema asuransi sosial, bantuan sosial, social fund, JKSM, jaringan pengaman sosial.
e)         Pelayanan kedaruratan: pengorganisasian bantuan: manajemen krisis, informasi dan rujukan, integrasi pengungsi, pengembangan peringatan dini masyarakat.
f)         Pekerjaan sosial sekolah: konseling penyesuaian sekolah, manajemen perilaku pelajar, manajemen tunjangan biaya pendidikan. Pengorganisasian makan siang murid, peningkatan partisipasi keluarga dan masyarakat dalam pendidikan.
g)        Pekerjaan sosial industri: program bantuan pegawai, penanganan stress, dan burnout, penempatan dan relokasi kerja, perencanaan pensiun, tanggung jawab sosial perusahaan (corporate social responbility).

2.    Masalah yang ditangani Pekerja Sosial
Berawal dari abad ke-14 di Inggris, masyarakat industri sangat ditentukan sistem pebrik. Pada zaman merkantilisme ini, pada awalnya laki-laki dan wanita bekerja di ladang atau pada perusahaan-perusahaan keluarga (informal) (Johnson,1984; Kartono, 1994).Hal ini memisahkan orang dewasa yang sebagian besar waktunya bekerja di pabrik dengan anak-anak yang ditinggalkan di rumah bersama keluarga besar atau tanpa pengawasan sama sekali. Pemisahan ini menjadi awal bagi dinamika keluarga dan masyarakat termasuk bagi munculnya permasalahan sosial yang diakibatkannya. Retaknya relasi sosial antara pekerja dan keluarganya, kurangnya kesempatan anak dalam meniru model peranan orangtua dan munculnya alinasi atau keterasingan pekerja dalam kehidupan masyarakatnya adalah beberapa contoh masalah sosial yang timbul akibat industrialisasi.

Mekanisme dan otyomatisasi melahirkan rutinitas pekerjaan dan membuat tenaga manusia tampak semakin tidak penting. Para pekerja kerah biru maupun kerah putih merasa tidak bermakna dan terancam karena kapan saja dapat digantikan oleh saingannya, yakni mesin. Perubahan teknologi, penggantian tenaga kerja (shift), dan pemutusan hubungan kerja yang semakin menjadi fenomena dalam kehidupan sehari-hari sering menimbulkan kecemasan bagi para pekerja. Proses otomatisasi di As menggantikan sekitar 2 juta pekerjaan setiap tahunnya. Para pekerja yang merasa tidak berguna dan tidak berdaya dalam pekerjaanya seringkali membawanya ke rumah dan masyarakat.
Johnson (1948:261) mengklasifikasikan akibat akibat industrialisasi yang bersifat negatif  terhadap kesejahteraan manusia ke dalam 5A yaitu:
a.       Alienation: perasaan keterasingan dari diri, keluarga, dan kelompok sosial yang menimbulkan apatis, marah, dan kecemasan.
b.      Alcoholism atau addiction: ketergantungan terhadap alkohol, obat-obat terlarang atau rokok yang dapat menurunkan produktivitas, meruasak kesehatan fisik dan psikis , dan kehidupan sosial seseorang.
c.       Absenteeism: kemangkiran kerja atau perilaku membolos kerja dikarenakan rendahnya motivasi pekerja, perasaan-perasaan malas, tidak berguna, tidak merasa memiliki perusahaan, atau sakit fisik dan psikis lainnya.
d.      Accidents: kecelakaab kerja yang diakibatkan oleh menurunnya konsentrasi pekerja atau oleh lemahnya sistem keselamaatan dan kesehatan lingkungan kerja.
e.       Abuse: bentuk-bentuk perlakuan salah terhadap anak-anak atau pasangan dalam keluarga (istri/suami), seperti memukul. Dan menghardik secara berlebihan yang ditimbulkan oleh frustasi, kebosanan, kelelahan di tempat pekerjaannya.

Beberapa permasalahan lainnya yang terkait dengan masalah industrialisasi adalah:
a.       diskriminasi di tempat kerja atau tindakan-tindakan tidak adil terhadap wanita, kaum minoritas, imigran, remaja, pensiunan, dan para penyandang cacat.
b.      polusi (udara, air,suara) dan kerusakan-kerusakan fisik dan psikis para pekerjanya.

3.    Tugas Pekerja Sosial Industri

Menurut Johnson (1984:263-264) ada 3 bidang tugas pekerja sosial yang bekerja di perusahaan antara lain:
a.       Kebijakan, perencanaan dan administrasi.
Bidang ini umumnya tidak melibatkan pelayanan sosial secara langsung. Sebagai contoh, perumusan kebijakan untuk peningkatan karir, pengadministrasian program-program tindakan afirmatif, pengkoordinasian program-program jaminan sosial dan bantuan sosial bagi para pekerja , atau perencanaan kegiatan-kegiatan sosial dalam departemen perusahaan.
b.      Praktik langsung dengan individu, keluarga, dan populasi khusus.
Tugas pekerja sosial dalam bidang ini meliputi intervensi krisis (crisis intervention), assesmen (penggalian) masalah-masalah personal, dan pelayanan rujukan, pemberian konseling bagi para pensiunan atau pekerja yang menjelang pensiun.
c.       Praktik yang mengkombinasikan pelayanan sosial langsung dan perumusan kebijakan sosial bagi perusahaan.
Para pekerja sosial telah memberikan kontribusi penting dalam memanusiakan dunia kerja. Mereka umumnya terlibat dalam konseling di dalam maupun di luar perusahaan, pengorganisasianprogram-program personal, konsultasi dengan manajemen dan serikat-serikat kerja mengenai konsekuensi kebijakan-kebijakan perusahaan terhadap pekerja, serta bekerja dengan bagian kesehatan dan kepegawaian untuk meningkatkan kondisi lingkungan kerja dan kualitas tenaga kerja (Johnson,1994;Suharto,1997).